Jumat, 06 Agustus 2010

Tony Roma's

Malam sebelum hari Valentine tepatnya tanggal 13 Februari 2010, saya mendapatkan kesempatan untuk mencicipi baby back nya Tony Roma's yg sudah terkenal itu.
Sebelumnya saya berpikir kalau Koes akan mengajak saya makan di Bandar Djakarta atau yang lainnya, tetapi saya sungguh kaget karena tiba2 dia mengajak saya untuk makan disana... ;)

Kita datang ke Tony Roma's yang di sebelah Ratu Plaza itu.
Saat itu keadaan disana cukup ramai, sehingga kami harus sedikit bersabar.
Setelah dapat tempat, kita langsung memesan makanan.
Karena yg terkenal disana adalah baby back nya, tentu saja saya harus mencicipinya juga.
Sedangkan Koes memilih mushroom burger. Kita juga memesan potato skin nya.
Untuk minum kita hanya memesan ice lemon tea.

Half baby back ribs


Potato skin


Mushroom burger


Koes dengan mushroom burger-nya


Review:
Untuk rasa baby backnya memang lumayan enak walaupun kurang pas dilidah saya.
Tetapi menu ini wajib dicoba jika Anda datang ke Tony Roma's.
Kalau potato skinnya, saya kurang suka. Yang suka si Koes makannya dia pesan.
Jadi potato skin itu kaya kentang kecil trus di panggang bagian agak luarnya (lihat gambar) dan ditaburi beberapa potong kecil daging ham atau apalah itu..hehehe..
Untuk mushroom burgernya, menurut si Koes sih burger disana masih juara (versi dia sendiri loh). Versi saya sih gak gitu, saya bilang rasanya masih kurang greget dilidah.. (*_*)

Untuk setengah porsi baby backnya Rp 160.000, mushroom burger Rp 85.000, potato skin Rp 60.000 dan ice lemon teanya Rp 20.000 x2.
Totalnya kita menghabiskan kurang lebih Rp 400.373 karena ada macam2 tax itu loh..
Ehmmm rasanya untuk makan disini lagi kalau ada acara2 tertentu aja deh, selain kurang enak dikantong, juga kurang puas diperut..hahaha..

Tony Roma's
Gedung Panin, sebelah Ratu Plaza

Kamis, 05 Agustus 2010

Jalan-Jalan Lagi ke Bandung... :)

Ehmmm sebenarnya jalan-jalan ke Bandung sudah biasa ya.. apalagi buat orang Jakarta. hehehe..
Saya sendiripun sudah sering bolak-balik Bandung hanya untuk mencari suasana berbeda dikala liburan pendek.
Akan tetapi tidak semua acara jalan2 ke Bandung saya, saya postingkan disini.
Hanya yang kira2 terdapat hal baru yang saya coba disana, misal tempat nongkrong, tempat makan, atau tempat rekreasi.

Nah kebetulan belum lama ini saya berkunjung kembali ke Bandung.
Tepatnya tanggal 22 Juli 2010.
Kita berangkat dari Tangerang sekitar jam satuan siang.
Sebelum berangkat saya mencoba browsing2 sebentar, saya mencari jajanan apa yg lagi atau wajib dicoba disana, tentunya selain yg sudah saya coba sebelumnya.
Pas googling ternyata saya menemukan jajanan baru yg saya lupakan selama ini, namanya martabak bolu..hehehe
Martabak bolu sebenarnya sudah lama saya dengar, akan tetapi karena saya tidak tahu tempat untuk belinya jadi saya baru bisa mencicipinya kemarin itu.hahaha

Setelah saya cek, ternyata martabak bolu yg terkenal di Bandung itu diproduksi oleh PT Golden Bell.
Ini semacam industri rumahan gitu deh.
Alamatnya : Jl.Dangdeur Indah II/1 (SuryaSumantri)Bandung 40163

- Dari Jakarta keluar dari tol Pasteur belok kiri atau pulang ke Jakarta sebelum masuk tol Pasteur belok kanan 800 m.
- Melewati Universitas Maranatha, sebelum Apartmen Majesty Belok kanan.
- Jl. Dangdeur ada disebelah rumah Jl. Suria Sumanti no. 94 (Auto Bridal Car Wash) .
- Masuk portal belok kiri, lalu belok kanan pertama.
- lokasinya persis di depan sekolah TK Anakku.

Website : www.martabakbolu.com

Untuk lebih detailnya silahkan kunjungi websitenya yah

Nah begitu memasuki kawasan Pasteur, saya bilang ke Koes supaya mampir dulu untuk membeli martabak bolu ini.
Karena saya mau coba dulu, kalau enak besok pas pulang saya mau beli lagi buat oleh2.
Karena di websitenya sangat jelas alamat serta petunjuk2nya, jadi tidak susah untuk menemukan rumah si martabak bolu ini..hehehe
Walopun masuk komplek dan gang2, tapi kalau mengikuti petunjuk yg diberikan sangat mudah sekali untuk menemukannya.

Untuk rasanya, martabak bolu ini hanya ada 5 pilihan :
* Keju Rp. 30.000
* Keju Coklat Rp. 30.000
* Kacang Coklat Rp. 30.000
* Keju Kismis Rp .32.500
* Keju Kacang Coklat Rp. 35.000

Saat pertama saya datang, saya membeli satu saja yg rasa keju coklat, karena untuk mencicipi terlebih dahulu.
Di dalam ruang tamu si tuan rumah, ada foto pak Bondan W dan si centil Amel (artis cilik).

Di tengah perjalanan saya menuju Lembang, Koes meminta saya untuk segera memotong si martabak.
Pas saya coba, ehmmmm lumayan enak loh.. memang martabak ini tidak berminyak layaknya martabak pada umumnya, tetapi saya dan Koes sangat menyukainya.
Karena kita berdua suka, martabak itu malamnya sudah ludesss gak bersisa.
Akhirnya kita bertekad besok harus beli lagi untuk dibawa ke Jakarta.hehehe..

Martabak bolu coklat keju (kemasan)


Martabak bolu coklat keju (isi)


Ohh iya kalau ke Bandung saya selalu mencari penginapan di daerah Lembang.
Karena udaranya masih sejuk, kalau di kotanya saya kurang suka karena udaranya tidak sejuk lagi.. ;)
Nah akhirnya kita putuskan untuk inap di hotel Casa D'Ladera karena saat itu kami melihat di depannya ada spanduk promo mereka.
Untuk hari Senin-Kamis standard roomnya hanya Rp 180.000 sudah termasuk breakfast untuk 2 orang.
Wah akhirnya kami mampir dulu disana untuk melihat keadaan kamarnya.
Maklum selama ini yg menjadi langganan kita adalah hotel disebelahnya yaitu hotel Setiabudi Indah.
Pas kami lihat, kamarnya cukup besar dan cukup bersih walaupun ada sisa bau rokok gitu.
Tapi sayangnya kamarnya seperti agak lembab, jadi Koes bilang kita lihat dulu di Setiabudi..hehehe

Pas sampai di Setiabudi ternyata room rate nya waktu itu untuk yg standard dan non AC Rp 220.000
Karena bedanya lumayan, jadi kita putuskan untuk inap di hotel yg sebelumnya.
Ohya pas check-in kita harus kasih deposit Rp 20.000 nanti pas check-out akan dikembalikan.

Sehabis rapih2, kita siap2 lagi untuk mencoba makanan baru yg direkomendasikan oleh temannya si Koes.
Namanya bebek Ali Borneo yg tempatnya disebelah RS Boromeus.
Katanya disana bebeknya enak dan selalu ramai pengunjung walaupun berbentuk kaki lima.
Jadi sistemnya siapa cepat, dia dapat (maksudnya dapat meja dan kursi) hehehe.
Kebetulan waktu kita datang belum ramai banget, jadi kita masih kebagian kursi dan meja walaupun ditengah2 dan agak susah masuknya.
Nah cara mesennya juga sedikit berbeda, jadi kita ga perlu manggil2 abangnya untuk order, kita cukup samperin meja kasir, tulis apa aja pesenan kita dan ada nomornya, kita ya mesti inget nomornya.

Nah kalau pesenan kita sudah tersedia alias uda siap semua, nanti si abang2 kasir nya akan teriak nomor kita. Kemudian di anter deh ke meja kita.
Tapi misal cuma mau nambah nasi atau minum ga perlu kaya tadi, cukup teriak aja..hehehe.

Memang penyajiannya cukup lama dibandingkan dengan warung pecel lele dan pecel ayam pada umumnya.
Tapi itu memang resiko makan di tempat ramai seperti itu.
Waktu itu kita pesan ayam goreng (untuk saya, karena saya sama sekali ga suka bebek), bebek goreng (andalan warung tersebut, pesenan si Koes), nasi putih dua dan es teh tawar juga dua.hehehe
Soal harga, ternyata selain enak makanannya, enak juga kok harganya.
Dari semua pesenan kita, total harganya cuma Rp 22.000.

Soal rasa, saya pikir warung ini bisa dinobatkan sebagai salah satu penyedia bebek goreng enak di Bandung.hehehe..
Biarpun saya makannya dengan ayam goreng, saya tahu bahwa bebeknya enak karena banyak sekali yg pesan.hahaha..
Yg bikin enak selain daging bebek dan ayamnya yg empuk2 gereget, sambelnya juga kesukaan saya banget, pedes2 manis gitu..hehehe..

Biar lebih tahu, gak ada salahnya kan coba sendiri kapan2 kalau lagi berkunjung ke Bandung.

Kedai Ali (google)


Bebek goreng si Ali


Ayam goreng si Ali


Sehabis makan, kita meluncur ke Paris Van Java. Niatnya sih cuma mau liat2 aja seperti biasa. Tapi si Koes tiba2 ngajakin nonton The Sorcerer's Apprentice di Blitz nya.
Sebenarnya sih saya kurang suka kalau sedang berlibur di luar kota dihabiskan dengan acara nonton bioskop. Tapi apa daya, daripada bingung malem2 mau kemana lagi..
Jadilah malam itu kita beli tiket nonton yg harganya : Rp 22.000 /orang untuk jam 22.15
Karena jam tayangnya masih cukup lama, kita bingung mau ngapain lagi. Terus si Koes mengusulkan supaya makan lagi di Ampera.
Ya sudah setuju aja deh kalau soal makan..hehehe..
Soalnya pas tadi makan di Bebek Ali saya memang belum terlalu kenyang, jadi pas ada ajakan makan lagi langsung saja saya setujui..

Kalau makan di Ampera, kita selalu milih makan di cabangnya yg di Cihampelas.
Disana kita pesan empal goreng, bakwan udang, ayam bakar, tahu goreng, dan nasinya pesen tiga.
Untuk minum kita andalkan yg gratisan aja, teh tawar refill..hahaha..
Total harga untuk semua pesanan kita yaitu Rp 31.000.
Disana kita makan dan ngobrol2 untuk menghabiskan waktu, pas jam 21.30 kita langsung meluncur lagi ke PVJ.

Besoknya, kita bangun pagi2 seperti biasa hanya untuk bela-belain breakfast..:)
Breakfast di hotel ini sistemnya buffet, akan tetapi pilihannya hanya ada nasi goreng, capcay sama bubur.huhuhu.. (udah murah kok bayangin yg aneh2).
Setelah check-out dan mengambil deposit kita yg Rp 20.000 itu, kita langsung menuju Rumah Strobery untuk makan nasi liwetnya yg enak itu.
Walaupun jaraknya cukup jauh dan masuk gang yg jalanannya terlalu kecil untuk 2 arah tetapi kita tetap meluncur kesana..
Lokasinya dekat sekali dengan cafe The Peak. Yang sudah sering ke Bandung pasti sudah tau lah tempatnya.

Kebetulan pengunjung waktu itu sedang tidak ramai, hanya ada sekitar 4-5 mobil.
Dan kamipun bebas untuk memilih tempat untuk bersantap ria..yihaaa..
Seperti yg tadi saya katakan, kami kemari untuk makan nasi liwetnya. So, uda pasti kita langsung order paket nasi liwetnya yg untuk 2 orang.
Ada juga paket nasi liwet yg untuk 4 orang, ada yg pakai ayam atau pakai ikan gurame.
Tak lupa kami memesan jus stroberry nya yg seger itu..slurrrpp..

Sebelum pesanan datang, kita akan disuguhi dulu seplastik keripik singkong free dan teh tawar yg bisa di refill.
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya pesanan kami tiba juga.
Yg namanya paket ya uda pasti isinya ada bermacam-macam, mulai dari segentong nasi liwet (yg saya perkirakan porsi untuk 2 orang sama saja dengan porsi untuk 4 orang yg pernah saya pesan sebelumnya), lauknya terdiri dari tahu, tempe, sambel, lalapan, ikan asin peda, dan ayam goreng. Juga ada kerupuknya.

Nasi liwet


Nasi liwet paket


Paket nasi liwet ayam goreng untuk 2 orang : Rp 65.000
Juice stroberry : Rp 15.000

Pulang dari sana, perut kita melendung gara2 nasinya banyak banget dan parahnya lagi nasinya bener2 kita bersihkan tak bersisa..wakakak.

Tujuan kita selanjutnya adalah muter2 jalan Riau.
Jadi kita keluar masuk FO hanya untuk melihat-lihat saja, apalagi saya, saya salah satu orang yg kurang tertarik untuk belanja2 baju di FO, saya lebih tertarik untuk beli tas atau aksesoris.

Setelah keliling2 dan tidak menemukan apa2 untuk dibeli, akhirnya kita tancap gas lagi ke salah satu deretan distro masih di seputaran Riau.
Koes sangat suka ke kawasan tersebut, karena kaos2 disana lucu2 dan bagus2 untuk cowo.
Kalau sudah kesana, pasti ada saja kaos yg dia senangi.
Dan perkiraan saya kali ini betul lagi, dia menyukai salah satu kaos lucu gambar monyet tapi antik gitu deh.
Dan yg saya takutkan juga terjadi, akhirnya dia membeli kaos tersebut..ggrrrr..
Padahal rencana awal kita emang tidak mau belanja apa2 kecuali makanan.

Oh ya, ada sedikit tips nih.
Misal mau pesen martabak bolu untuk diambil sore atau malam, jangan lupa untuk pesen via telepon atau sms dari siang sebelum jam 2.
Kalau uda pesen, mau diambil jam 9 malampun, masih dilayani.
Untung waktu itu saya teringat untuk menanyakan jam operasional si martabak bolu..
Jadi saya sms saja dan pesan 3 martabak bolu (2 coklat keju, 1 keju) untuk diambilnya paling lama jam 9 malam. Karena sekalian lewat pas mau pulang ke Jakarta.

Setelah dari jalan Riau, kita langsung menuju arah Dago Pakar. Yaaa, kita mau ke The Valley.
Tempat ini juga sudah lama saya dengar tapi saya belum pernah kesana, karena saya lebih senang ke cafe Sierra (letaknya sebelum The Valley).
Karena banyak teman yg sudah sering kesana, akhirnya saya tergoda juga untuk sekedar mencoba atmosphere disana.
The Valley ternyata terdiri dari dua tempat, yang pertama khusus untuk menikmati makanan ala2 suki gitu deh. Sedangkan yg lainnya itu seperti Sierra, bistro cafe.

Nah kita tentu saja ke tempat yg kedua, ke bistro cafenya.
Kita disana memang tidak ada rencana untuk makan, kita cuma mau minum2 aja.
Tetapi kayanya pelayan2 disana kok seperti tidak biasa ya dengan customer2 yg datang hanya untuk minum2 saja.
Saya bisa merasakan, seperti ada sesuatu yg kurang nyaman dengan pelayanan disana.
Padahal menurut saya pribadi, dari segi tempat, pemandangan, dan segi harga, cafe Sierra lebih baik dari The Valley. Tapi itu kembali kepada selera masing2 ya.
Soalnya saya unexpected dengan The Valley, karena sebelumnya saya membayangkan tempatnya akan lebih indah dari Sierra, tapi ternyata saya salah..(lagi2 ini menurut saya pribadi).
Disana kita cuma pesen chocolatino float, hot lemon tea, dan poffertjess.
Dan jujur saja, memang saat itu customer yg datang hanya kami berdua yg tidak memesan main course..kami memang masih kekenyangan gara2 nasi liwet di Rumah Stroberry tadi.

Akhirnya kita tidak berlama-lama disana karena tidak ada lagi yg bisa kami lakukan dan haripun mulai gelap.

Chocolatino float : Rp 27.500
Hot lemon tea : Rp 14.500
Poffertjess : Rp 24.500

Service charge 5.5% : Rp 3.658
Pajak 10% : Rp 6.650

Total : Rp 76.808

The Valley


Chocolatino float


Hari mulai malam, dan kamipun harus segera kembali ke Jakarta.
Sebelum masuk ke tol, tak lupa kami ambil dulu pesenan martabak bolu kami di rumahnya.hehehe..
Ehh2 ternyata ada kesalahan, si ngko nya salah denger, dikiranya pesenan kami 2 keju dan 1 coklat keju...
Tapi ya udahlah gak apa2, masih sama2 enak kok..!!!

Dan akhirnya kami harus kembali ke asal, cu Paris Van Java...

Kamis, 08 Juli 2010

Tahun Baru (LAGI) di Bali (pt.2)

Lanjutan dari cerita sebelumnya.

Begitu sampe hotel kita langsung tidur di kamar yg sudah disiapkan untuk kita.
Ohya sebelumnya om dan tante saya beserta anaknya sudah lebih dulu tiba pada siang harinya. Mereka semua naik Mandala yg pesennya dari jauh2 hari banget. :)
Mereka juga jauh2 hari sudah pesen hotel di jalan Legian, ehmm tapi lupa namanya apa..
Dan mereka dapat rate Rp 500.000/malamnya.

Besoknya tanggal 31 Desember 2009, kita bangun pagi2 untuk breakfast tentunya..hehehe..
tapi bukan untuk itu aja sih, kita memang sudah merencanakan akan langsung jalan2 ke GWK dan sekitarnya.
Mulailah dengan mencari-cari motor sewaan, yang ini udah pasti tugasnya si Koes.hehehe.
Tapi ga usah khawatir, kita uda punya langganan kok disana. Namanya Nakula rent motorcycle, adanya deket hotel Grand Kumala, tapi sebenernya gak deket2 amat sih kalo jalan kaki. Harga standar sewa motor di Bali sebenernya Rp 60.000, tapi jika kita mau sewanya agak lama apalagi kita sudah kenal dengan pemiliknya, Rp 35.000/hari pun bisa kita dapat. Berhubung waktu itu kita pergi lagi peak season, jadinya kita dapat Rp 45.000/hari dan kita sewanya untuk lima hari. Ohya motor sewaan di Bali kebanyakan jenis matic seperti Vario, Mio, Beat, dll.
Waktu itu kita sewa dua motor dapet Vario semua plus helm2nya masing2 motor dapet 2 helm.

Selesai breakfast dan mandi, kita menunggu dulu om dan tante saya yg berlainan hotel untuk datang berkumpul di hotel kami. Karena kita akan konvoi, yg tau jalan cuma Koes seorang masalahnya.hehehe..
Oke setelah siap semua berangkatlah kita ke arah Jimbaran, tujuan pertama kita yaitu GWK (Garuda Wisnu Kencana). Seperti yg telah saya tuliskan sebelumnya, saya sudah agak bosan ke tempat ini, karena hanya begitu2 saja, belom ada perubahan apa2 dari waktu pertama kali saya pergi pas masih SMP dulu.
Alasan kita ketempat ini lagi, karena sepupu saya yg endut itu dan mamanya yg ingin liat apa itu GWK. Saya maklum karena memang mereka baru pertama kali ke Bali dan naik pesawat..hehhee..
Tiket masuknya masih Rp 15.000/org, bisa dikatakan cukup mahal sih kalo dibandingkan dengan obyek wisata Bali lainnya.
Karena kita naik motor jadi kita bisa langsung parkir di atas. Jadi dari parkiran kita bisa langsung ke patungnya mbah Wisnu tanpa harus melewati gerbang utama yg berada di bawah.

Cuaca saat itu sedang panas2nya..sampe2 kita pada males untuk bergerak. Kalo liat yg adem2 dikit langsung samperin deh trus ngaso (ngadem).
Seperti biasa disini cuma bisa foto2 doank trus liat2 sbentar, abis itu cabut deh..
Pas kita mau pergi dari GWK, tiba2 sepupuku yg kecil minta sama papanya untuk naik flying fox dulu..aduhh cape deh dasar anak2..
Ya udah deh mau ga mau kita mesti nungguin tuh anak maen itu dulu. Mana ngantri pula lagi..fiuhh.
Ohya waktu itu kayanya mainan2 outbond seperti flying fox, wall climbing, dll kayanya masih baru, soalnya baru kali itu saya lihat ada permaninan seperti itu disana.
Tapi yg kebanyakan maen sih anak2 yah, gatau deh orang dewasa bole apa engga naik juga. Jangan tanya harga per orangnya yah...saya gatau, soalnya ga sempet nanya sama om saya.hehehe..

Setelah tuh bocah selesai mainnya kita langsung buru2 ke tujuan selanjutnya deh biar ga kesorean.

GWK (LAGI)Iyul dan Joshua


Iyul dan mamanya


Iyul lagi


Joshua mau main flying fox


Selesai deh main flying fox nya





Tujuan selanjutnya adalah Uluwatu, jadi begitu keluar dari area ini langsung deh belok ke kiri terusssss aja sampe mentok, disitulah letak Uluwatu, pojokkk banget..
Pas mau masuk sana kita akan dicegat dulu sama apa yah namanya, pemungut retribusi kali bahasa halusnya.hehhee..
Kalo motor dikenain harga Rp 1000, kalo mobil gatau deh..
Nah setelah parkir kita langsung ke tempat loket buat beli tiket. Disini kita harus bayar Rp 3000/orangnya.
Nah kalo kita kebetulan kesana pas pake celana pendek..jangan khawatir disini disediain peminjaman sarung kain gratis kok. Soalnya kita harus menghormati adat istiadat disana, jd kalo harus berpakaian sopan ya jangan dilanggar.

Ehmmm apalagi yah yg mau diceritain tentang Uluwatu, semuanya sudah saya tulis di post2 sebelumnya.
Pemandangan indah dari atas bukit yg langsung menghadap ke laut lepas...
Tak lupa banyak monyet2 nakal disana yg suka mencuri barang milik turis yg lengah..
Ohyaa ada yg sedikit berubah nih kayanya, pas saya masuk saya ga langsung belok ke arah kiri tapi saya jalan lurus masuk ke jalan setapak yg sekelilingnya semak2.
Pikiran sih biar ntar sekalian muter gitu..
Pas sudah mau nyampe pinggir tebingnya, kok saya merasa ada yg aneh yah...
"KEMANA para monyet2 yg sering berkeliaran itu???"
biasanya aroma para monyet uda mulai tercium dari radius 5 meter oleh saya (boong deh), tapi setelah kami bener2 sampe di tepi tebing, tak seekorpun nampak batang hidung si monkey.
Pada kunjungan saya sebelumnya kesana, di area tersebut sudah banyak monyet2 yg berkeliaran, tapi sekarang tak satu ekorpun nampak oleh kami, sampe2 mata saya mencari-cari di setiap sudut semak2 tersebut.

Nah pas kami sudah mendekati area pura utama di Uluwatu, barulah nampak beberapa ekor monyet sedang leha2..
Langsung deh kami pakai mereka sebagai obyek foto2.
Semakin ke arah pura, semakin ramai monyet disana...eitsss ramai turis juga tentunya.
Tapi saya tetap berasa anehhh, saya merasa monyet2 disana populasinya menurun drastis..
Waktu saya pergi September 2008, monyetnya banyakkkk banget sampe2 jalan dikit ada monyet, jalan lagi ada monyet lagi...
Nah terakhir saya pergi lagi bulan Juli 2009, memang sudah nampak monyet2nya berkurang tapi tidak terlalu signifikan seperti waktu itu.

Ya walopun pikiran saya penuh tanda tanya tentang kemana monyet2 tersebut, saya tetap berpikir positif, mungkin monyet2nya lagi bobo disarang masing2..hehehhee.. :)
Mungkin mereka juga kepanasan kaya turis2 disana, jadi ogah keluar sarang.
Ohya yg saya rasakan bukan hanya populasi monyetnya yg berkurang tapi juga perilaku monyetnya yg sudah agak kalem2 gitu..
Dulu klo dia liat kita bawa yg aneh2 dikit pasti langsung dia incer, makannya segala perhiasan, topi, kacamata, gantungan kunci yg aneh2 lebih baik diamankan deh.
Sekarang sih saya liatnya mereka (monyet2) pada kalem2 banget, kalo dideketin mereka malah kabur, dan waktu itu pertama kali saya kesana tidak mendengar ada turis yg teriak2 karena bermasalah sama monyet..hahahaha..
Udah ah cerita monyetnya.. kita juga ga lama2 disana paling juga 1 jam-an deh, ga tahan panasnyaaa..
Setelah foto2 langsung ngacir ke parkiran terus mampir di warung2 yg ada disana..
Om saya liat kelapa muda berjejer langsung pesen aja dia.
Ngeliat om saya yg seger abis minum es kelapa, langsung deh semua ikut2an mesen.
Kelapa muda di tempat2 wisata memang rada mahal dikit, Rp 10.000/buahnya.
Selesai mendinginkan badan, kita langsung siap2 lagi ke tempat selanjutnya yaitu pantai Labuan Sait atau lebih dikenal dengan pantai Padang2.
Si Koes yg liat tukang jagung bakar langsung aja disamperin trus dibeli deh sama dia.
Satu jagung bakar Rp 5000, bisa milih rasa mau pedes, manis, pedes manis terserahlah pokoknya.

Koes dan Saya sendiri ;)


Om, Joshua, Mama Joshua, Mama Iyul dan Iyul


Salah satu monkey yg lagi leha2..






Si ibu tukang kelapa


Setelah keluar dari Uluwatu, motor yg ditumpangi om dan motor yg ditumpangi iyul keluar lebih dahulu sedangkan saya dan Koes masih beres2 ini itu.
Disinilah terjadi kesalahpahaman, saya dan Koes lupa untuk memberitahukan mereka bahwa untuk ke pantai Padang2 kita akan mengambil jalan pintas.
Kalo dari Uluwatu mau ke pantai Padang2 kita tinggal belok kiri setelah keluar dari parkirannya.
Nah 2 motor yang lebih dulu keluar mereka jalan terus saja tidak belok ke kiri.
Akhirnya kita tunggu saja mereka, berharap semoga mereka balik lagi kalau melihat kita gak nongol2..hehehe..

Dan akhirnya 2 motor tersebut benar2 balik lagi, mereka langsung bertanya-tanya kenapa kita gak jalan2..
Kita jelasin deh, kalo kita mestinya belok kiri setelah keluar parkiran. Sebenernya jalur yg akan kita lewatin ini agak sedikit berbahaya karena selain ada belok2an, juga banyak tanjakan dan turunan yg curam. Tapi karena lebih dekat, akhirnya kita memutuskan untuk lewat sana.
Jangan lupa untuk belok kanan pas ada nama jalan Labuan Sait atau Padang2.
Setelah belok kanan, terus saja ikuti jalur nanti kita akan ketemu pantai tersebut. Untuk ke pantai ini gratis, palingan kita cuma bayar parkir aja.
Nah uniknya pantai ini ialah pintu masuknya, untuk menikmati pantai ini kita harus menuruni tangga dari batu dahulu, di salah satu sisi kita akan berhadapan dengan jalan sempit khusus untuk satu orang saja sehingga kita harus bergantian untuk lewat. Pantai Padang2 memang tidak terlalu luas, akan tetapi pantai ini memang cocok untuk orang yg suka dengan ketenangan karena tidak terlalu ramai.
Kita juga bisa berfoto-foto di bawah karang yang besar atau sekedar leha2 sambil gelar kain disana.
Keindahan pantai ini sempet dijadikan background dalam video clip nya BCL yg judulnya aku tak mau sendiri (kalo ga salah ya).
Karena hari sudah semakin sore, kita siap2 lagi untuk ke tujuan berikutnya yaitu pantai Dreamland.
Tentu saja untuk ke parkiran kita harus menaiki tangga2 dahulu..sampai atas kita semua sempet ngos-ngosan (kecapean), apalagi mamanya Iyul yg sudah lumayan berumur.

Beberapa foto di pantai ini sudah saya lampirkan di post2 sebelumnya, jadi sekarang saya hanya upload beberapa aja

Ini tangga menuju pantai Padang2 (foto waktu Desember '08)






Keluar dari parkiran kita langsung meluncur ke pantai Dreamland. Dari pantai Padang2 ke Dreamland dapat ditempuh sekitar 20 menit pakai motor.
Jika dari arah Uluwatu, pintu masuk ke arah pantai Dreamland ada di sebelah kiri, tapi jika anda dari arah Jimbaran pintu gerbang nya ada di sebelah kanan.
Jangan khawatir terlewat, karena gerbangnya besar banget, namanya Bukit Pecatu Indah.
Memang pantai ini ada di dalam kawasan perumahan elite gitu, yang konon dimiliki oleh salah satu anak mantan presiden RI kita yaitu pak Harto.
Dari gerbang tersebut kita masih cukup jauh dari pantainya, nanti kalo sudah melihat ada keramaian disitulah kira2 letak pantainya.
Disini parkirannya sudah dikelola oleh salah satu perusahaan parkir, jadi tidak ada tuh tukang parkir atau sejenisnya.
Untuk motor saat itu masih dikenai Rp 5000 sekali masuk, jangan heran kalau jalan untuk ke parkirannya masih berbatu-batu, jadi harap berhati-hati sedikit.
Untuk bisa mencapai bibir pantainya kita harus berjalan kaki lagi walaupun tidak begitu jauh.

Saat tiba di bibir pantai, saya sedikit terkejut karena disana ramaiii sekali tidak seperti biasanya.
Selain didominasi oleh para turis (lokal), disana juga menumpuk pedagang2 baju lengkap dengan tenda2nya.
Padahal dulu sebelum Dreamland komersil, pantai ini sangat alami sekali, belom ada bar2 di pinggir pantai, belom ada penjual2 baju seperti sekarang ini, dan satu lagi masih banyak bule daripada turis lokalnya.
Tapi sekarang setelah ada campur tangan manusia dalam pengelolaannya, Dreamland seperti sudah kehilangan keasliannya. (menurut saya loh).

Ya seperti yang sudah2, disana kita hanya main2 air, menikmati ombaknya yg besar dan sebagainya.
Ohya satu lagi, bagi yg mau menghemat lebih baik bawa segala kebutuhan terutama "pangan" seperti air, makanan, dsb sendiri. Karena harga air mineral botol sedang disana Rp 5000, kalo mau mandi Rp 10.000, selain itu jangan kesorean untuk bilas jika sedang ramai karena akan beresiko tidak kebagian air.
Menurut salah satu pengelola wc umum disana, air disana agak susah makannya mereka membeli air dari luar, oleh sebab itu mereka membandrol Rp 10.000 untuk bilas.

Pedagang yang mendominasi area Dreamland


Ramainya Dreamland




Salah satu cafe mewah di Dreamland










Jualan tahu di Dreamland


Hari sudah semakin sore saat itu, dan kebetulan juga saya dan tante saya kebelet pipis. Tapi apa daya ternyata toilet yang masih buka sore itu hanya satu, ngantri pula ditambah gak ada airnya...LENGKAP deh..
Jadi kita buru2 deh cari tempat lain diluar sana untuk pipis. Nah dalam perjalanan pulang, kan udah pasti lewatin Jimbaran, seperti biasa deh si Koes ngajak2 kita untuk makan disana dulu.
Seperti yang telah saya tuliskan sebelum2nya, bahwa banyak yg mengira kalo makan di Jimbaran itu kesannya mahal, kurang enak, dsb. Begitu pula yg ada dipikirannya om saya, dia bilang ngapain makan disana, nanti bayarnya mahal lho!!!
Terus saya jelasin deh, kalo tempat yg nanti kita mau datengin itu ga semahal yang dia kira.
Memang kalo kita pakai jasa tour guide atau supir pasti kita akan diajak ke salah satu tempat makan di kawasan tersebut, tapi jangan salah mereka akan ajak kita ketempat yg bisa menguras kantong kita untuk sekali makan.
Karena ada kerja sama diantara restoran dan si tour guide itu sendiri, kalo si guide bisa bawa tamu maka mereka akan dapat komisi, begitu pula kalau kita pakai guide ke Kintamani, pasti kita diturunin disalah satu restoran sana untuk makan siang.

Kembali ke cerita, tempat yang akan kita datangi bisa diakses dari gang kecil di sebelah hotel 4 seasons. Awas jangan sampai kelewatan, soalnya kalau malam memang agak susah untuk melihat sign disamping gangnya.
Kalau sudah masuk gang, jalan terus sampai ketemu kepulan2 asap yang ada di sebelah kanan kita, disitulah kita akan makan.
Di dalam sana ada banyak pilihan tempat makan, tapi memang semuanya menjual aneka seafood.
Karena kita sudah punya pilihan akhirnya kita langsung masuk tanpa harus pilih2 lagi.
Tapiii ada sesuatu yg terlupa oleh saya dan Koes, saya memang dapat rekomendasi dari teman tempat makan yg lumayan enak itu di Kekeluargaan, tetapi dulu saya dan Koes kan salah masuk ke restoran yang disebelahnya.
Karena sudah memesan, akhirnya kita pasrah untuk mencoba makan di Kekeluargaan.
Waktu itu kami pesan macam2, dari ikan 2 ekor, udang, cumi, kerang, dll..
Sekali lagi saya tuliskan bahwa kangkung dan nasi putihnya gratis dan refill..hehehe..

Ehmm mengenai rasa, memang saya akui lebih enak disebelahnya. Apalagi olahan kerapu merah disebelah lebih maknyusss..
Soal tempat, gak kalah kok dengan cafe2 Jimbaran yg mahal2 itu. Disini kita juga makan di pinggir pantai kok, outdoor gitu jadi bawah kita pasir2.
Total kita makan disana dengan menu yang agak berlebihan menghabiskan sekitar Rp 400.000an. Sungguh jauh beda jika kita makan di tempat yg direkomendasikan oleh para guide, pengalaman om saya saja, mereka makan bertiga dengan lauk yg seadanya bisa habis Rp 600.000an. Makannya mereka berpikiran kalau makan di Jimbaran bakal menguras kantong.

Suasana Jimbaran




Firework di Jimbaran


Rombongan


Si endut Iyul




Selesai makan kita kembali lagi ke hotel, mandi dan siap2 lagi untuk tahun baruan dipantai.
Selesai mandi waktu sudah menunjukkan jam 10an malam waktu Bali. Kita segera jalan menuju Legian untuk menjemput om saya. Tapi rupanya saya tidak belajar dari pengalaman, jalan2 disana sudah banyak yang ditutup, jadi untuk akses ke Legian saja kita mesti lewat2 jalan tikus.
Jalan yg menuju kearah monumen bom Bali pun sudah benar2 di tutup bagi kendaraan apapun. Yang bisa dilihat disana banyak sekali polisi berjaga-jaga.
Karena akses sana-sini ditutup, akhirnya kita memarkirkan motor kita di sisi jalan.
Dan kita jalan kaki ke hotel om saya. Setelah bertemu mereka, kita berencana untuk langsung ke pantai, tapi apa daya sepertinya pantai sudah ramai dan susah untuk diakses. Karena takut gak keburu lagi tahun baruan di pantai akhirnya kita putuskan untuk menyambut tahun baru di Legian saja. Tepatnya di depan monumen bom Bali I.
Meski agak sedikit kecewa karena tidak bisa tahun baruan lagi di pantai Kuta, tetapi saya tetap ceria melihat keramaian dan kemeriahan yang terjadi disana.

Legian menjadi lautan manusia





- Bersambung -