Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Ayo Makan Daging di Let's Meat

Waktu buka-buka artikel di detikFood, saya tertarik untuk membaca artikel yang berjudul "Salisbury Steak dari Kelapa Gading".
Sebelumnya saya tidak tahu apa itu Salisbury Steak, saya tertarik membaca karena ada embel-embel kelapa gadingnya (daerah wiskul favorit saya).

Ketika saya baca ternyata Salisbury Steak itu adalah sejenis Hamburger Steak karena dagingnya terbuat dari daging sapi cincang yang dibumbui kemudian dibentuk menjadi bulatan.
Karena tertarik dengan reviewnya di detikFood, saya segera meluncur ke TKP tapi saya tidak memesan Salisbury Steak tetapi malah pesan Prime Sirloin. Kalau si Koes pesan yang Tenderloin lokal untuk perbandingan.
Untuk pilihan saus hanya ada 2 yaitu bbq dan mushroom dan kita pesan keduanya untuk steak kita masing-masing.

Ohya gerai Let's Meat ini menurut saya kurang eye catching karena gerainya cukup kecil dan papan namanya kurang mencolok.
Tapi karena sudah tahu patokannya, kami berdua jadi gampang menemukan si Let's Meat.

Pesanan agak lama datang, pelayan pun sepertinya hanya sekitar 2 atau 3 orang.
Begitu pesanan datang, saya langsung jatuh cinta dengan penampilannya, sederhana tapi menggugah selera.hehehe.. Bagaimana dengan rasanya??
Untuk Prime Sirloin nya, buat saya sudah cukup memenuhi kriteria saya sebagai steak yang layak di acungi jempol dengan harga yang relatif terjangkau pula.
Dagingnya tidak keras dan tidak alot, tingkat kematangan yang saya mau juga didapat, rasa saus bbq nya pun agak encer sesuai dengan selera saya dan tidak dominan manis.
Lalu ketika saya mencoba Tenderloin lokal pesanan si Koes, kok bisa beda banget yah. Mulai dari tekstur dagingnya yang agak lembek dan tipis lalu pas dipotong pun seperti lagi motong daging iris bukan steak.

Yang saya suka juga, sayuran steak di Let's Meat ini seperti dipanaskan dengan mentega atau minyak apalah itu, jadi pas dihidangkan kelihatan agak kekuningan dan pas dimakan berasa juicy.
Belajar dari pengalaman, kalau makan disini lagi kita tidak mau pesan yang lokal mending langsung yang Prime, karena harga tidak jauh berbeda namun rasa sungguh sangat terasa bedanya.

Ohya waktu pertama kali kesana kita ditawari kartu anggota dan kalau kesana lagi bisa diskon 20%, kita cuma diminta isi data-data yang umum saja.
Lalu kalau ada promo-promo kita akan dikirimkan SMS.

Prime Sirloin (pertama kali datang saus bbq nya masih dipisah)


Prime Sirloin (Kedatangan berikutnya saus bbq sudah tidak dipisah)


Tenderloin Lokal (saus mushroom)


Aust Sirloin : Rp 47.000
Lokal Tenderloin : Rp 39.000
Ice Tea : Rp 3.000

Diskon 20% dengan member card or promo SMS hanya untuk Steak.

Let's Meat
Jl. Bulevard Raya FW1/12A
Kelapa Gading
(tepat bersebelahan dengan PHD dan Apotek Century)

Kamis, 05 Januari 2012

Nikmatnya Mie Goreng Cha Siew di Imperial Lamien

Iseng saya googling DetikFood dan menemukan artikel mengenai tempat makan baru di area Flavor Bliss, Alam Sutera.
Tempat baru ini menyajikan Lamien dengan koki asli yang diimport dari China, sudah gitu dalam artikelnya juga dikatakan bahwa harga makanan dan minumannya ternyata cukup terjangkau, oleh sebab itu berangkatlah kita kesana beberapa hari kemudian.

Di area Flavor Bliss ini kita akan menemukan banyak sekali pilihan tempat makan ataupun tempat untuk bersantai sekedar ngopi-ngopi.
Imperial Lamien ini ada di pojokan bersebelahan dengan resto Grand Ni Hao.
Waktu awal-awal, mereka mengadakan promo 2 lamien yang harganya didiskon dari sekitar 26 ribuan menjadi Rp 14.900, tetapi promo ini hanya berlaku dari Senin-Jumat.
Karena lagi didiskon makan kita pesan 2 lamien tersebut, yang satu Mie Sapi Pedas dan satu lagi Mie Yu Syiang b2 (non-Halal).
Selain pesan dua menu tersebut, kita juga memesan Mie Goreng Cha Siew b2 (non-Halal) dan Nasi Goreng Yang Chow, dan untuk minumnya kita pesan Chinese Tea yang Chrysanthemum.

Setelah memesan, kita harus bersabar untuk menunggu beberapa saat sampai pesanan kita datang, karena mie nya langsung dibuat oleh si koki saat kita pesan (itu kata salah satu pelayannya loh), di salah satu sudut ruangan ada sebuah LCD TV digantung, disana kita dapat melihat si koki yang sedang mengangkat lalu menggulung-gulung mie, walaupun tanpa TV si koki sebenarnya sudah bisa terlihat kok, lha orang disana open kitchen gitu konsepnya.

Satu-persatu pesanan kita datang dan kita saling berbagi pesanan masing-masing agar kita bisa mencicipi semua yang kita sudah pesan.
Untuk Mie Yu Syiang b2 nya saya cukup suka, campuran b2 cincangnya dicampur dengan irisan bangkuang mengingatkan saya pada makanan-makanan Vietnam yang identik banget dengan buah satu ini.
Tapi jujur saya kurang suka dengan campuran buah ini dengan mie dan daging b2, jadi saya singkirkan beberapa irisannya.hehehe..
Untuk Mie Sapi Pedas nya, ini mie yang disajikan memang sudah berkuah, warna kuah nya sesuai dengan namanya agak kemerahan, tapi rasanya cuma pedas-pedas gertak, alias tidak terlalu terasa pedasnya. Untuk mie ini saya cukup suka, tapi sayang saya bukan pecinta mie-mie berkuah. ;p
Dan untuk Mie Goreng Cha Siew nya, kita bilang sih juara deh. Walaupun dalam penyajiannya, si mie goreng ini agak berlebihan minyak, tapi mungkin ini yang membuat si mie goreng tambah nikmat..sluurprppp..
Kalau tidak suka minyak berlebih, kita bisa bilang kok sama pelayannya.
Terakhir kita cicipi si Nasi Goreng Yang Chow, sebenarnya ini sih pesanan mama saya, karena dia suka dengan nasi goreng yang tidak pakai kecap seperti pada umumnya.
Kalau saya malah kebalikannya, nasi goreng tanpa kecap seperti sop tanpa kaldu. fiuhh..
Nasi Gorengnya ya biasa saja menurut saya, atau mungkin faktor selera kali ya, isinya sih lumayan campuran beberapa seafood, cha siew, dll tapi warnanya kuning mentega gitu.

Untuk hidangan penutup kita coba pesan salah satu menu dimsumnya, si mantau goreng (kukus juga ada), mantaunya agak unik dan isinya tidak padat, tapi begitu di cocol dengan susu, wihhh..PASSSS Banggetttt enaknyaaa.. :D
Lalu kita juga pesan es Salju Shanghai, menurut kita es nya agak terlalu manis dan isinya kurang banyak. hehehehe...

Segitu dulu deh review saya mengenai Imperial Lamien, ini mengenai kunjungan pertama saya, saat ini saya sudah mengunjungi tempat tersebut sekitar 5 kali dan selalu memesan menu-menu yang berbeda, tetapi menu Mie Goreng Cha Siew selalu ada dalam list pesanan kami :p
Ingin saya me-review satu-persatu menu yang sudah saya pesan selama saya berkunjung kesana, tapi kepanjangan kayanya :(
Biar tidak penasaran, silahkan datang dan rasakan sendiri lamien buatan si koki import ini.hehehe..

-Ohya terakhir berkunjung, promo Mie Sapi Pedas dan Mie Yu Syiang sudah tidak ada lagi, tetapi digantikan promo-promo lainnya.-

Mie Sapi Pedas


Mie Goreng Cha Siew, maknyusss..


Si Koes lagi menikmati Mie Yu Syiang nya :)


Nasi Goreng Yang Chow


Mantau Goreng


"Maaf entah kenapa beberapa foto menghilang tanpa jejak.. T_T, jadi hanya foto diatas yang bisa ditampilkan"

Mie Sapi Pedas (promo) : Rp 14.900
Mie Yu Syiang (promo) : Rp 14.900
Mie Goreng Cha Siew : Rp 26.900
Nasi Goreng Yang Chow : Rp 22.900
Mantau Goreng : Rp 10.900
Es Salju Shanghai : Rp 15.900
Chinese Tea Chrysanthemum : Rp 5.900

Imperial Lamien
The Flavor Bliss Extension
Alam Sutera Serpong, Tangerang

Jumat, 23 Desember 2011

Babyback ala White Hunter

Kemarin genap sudah saya dan Koes jadi pasangan selama 4 tahun lamanya... doakan supaya tahun depan bukan perayaan jadian lagi tapi perayaan lain.. (ngertilah maksudnya) :p

Terus kita cari tempat buat makan enak tapi suasananya santai, jadilah kita pilih si White Hunter sebagai tempat perayaan jadian kita.hehehe...
Pertimbangan lain selain mau cobain babybacknya, si White Hunter ini lagi ada diskon 30% dengan Mandiri credit card (food only), minimal transaksi pun harus Rp 250.000, kalau punya BNI credit card lebih untung lagi diskon 50% dengan minimal transaksi hanya Rp 200.000 saja, sayang punya nya Mandiri.

Tadinya kita mau ke White Hunter yang di Gandaria City, tapi setelah dipikir-pikir macetnya, pas orang pulang kerja pula, jadinya kita ke WH yang di Living World Alam Sutera saja.
Disana kita pesan babyback regular yang lokal dengan saus bbq dan .... lupa, yang rasanya ada winenya gitu, kita memang sengaja minta sausnya dipisah biar bisa dibandingi.
Lalu Koes pesan Beef n Bacon Burger dan sebagai appetizer kita pilih Mozzarella Cheese Stick. Minumnya cukup ocha dingin saja, karena tidak didiskon.hehehee..
Btw ocha di WH ini agak berbeda dengan ocha di resto-resto Jepang, ocha di WH ocha ala teh Korea gitu, rasanya pun lebih 'nendang' daripada ocha ala Jepang.

Setelah pesanan datang, keluar deh gaya bar-bar kita..yang awalnya masih pakai garpu dan pisau, lama-lama pakai tangan juga.hahahaaa...
Ya itulah seninya makan iga, pakai tangan lebih nikmat lohh!!!
Untuk rasa sih standar, masih lebih maknyus punyanya si Tony Roma's, tapi jujur iga nya si Nuri's yang di Ubud (bukan yang di Kelapa Gading yah) lebih cocok dilidah 'ndeso' saya. Karena rasa manisnya itu loh..slurrpp..
Apa mungkin saya harus pesan yang US yah, mungkin rasanya akan lebih oke dari yang lokal, ya lain kali deh coba lagi.

Untuk Beef n Bacon Burger s Koes bilang sih cukup oke, tapi saya kurang suka dengan dagingnya, rada kurang berbumbu dan terlalu lembek.
Dan untuk Mozzarella Cheese Stick nya kalau dimakan pas panas, masih terasa banget kelezatan kejunya, tapi begitu dingin, rasanya betul-betul biasa saja soalnya saya bawa pulang karena tidak habis dimakan disana.

Laen kali kalau datang lagi mungkin saya akan coba beef ribs nya dan fish & chip nya.

Makasih Koessss, selamat 4 tahunan yachhh semoga bisa lebih sabar lagi sama daku... Muacchh..

"Ik hou van jou"


Babyback regular


Beef n Bacon Burger


Mozzarella Cheese Stick







Mozzarella Cheese Stick : Rp 28.000
Beef n Bacon Burger : Rp 55.000
Baby Back Ribs (Reguler) : Rp 168.000
Ocha : Rp 15.000

Han Gang - White Hunter
Living World #GF-37
Alam Sutera Serpong, Tangerang

Minggu, 05 Desember 2010

Mencicipi Es Krim Tempo Doloe

Ragusa Es Italia,
Ya itu nama tempatnya..
Sebenernya nama Ragusa sudah lama saya dengar dari mulut ke mulut, tapi baru kemarin ada kesempatan untuk mencicipinya.

Karena sudah ada bayang2an letak pasti lokasinya, kemarin sore kami langsung meluncur ke TKP tanpa ada hambatan apapun.
Sangat mudah menemukan tempatnya yang persis ada disebelah kiri jalan, karena jalanannya satu arah.
Tempat Ragusa tidak terlalu besar dan bangunannya sudah agak tua.

Persis di depan Ragusa ada beberapa penjual makanan, seperti sate ayam, asinan, otak2 bakar, dan kue cubit.
Semuanya boleh dipesan dan dimakan di dalam Ragusa.
Tapi kami tidak memesan apa2 karena menurut beberapa pendapat orang satenya kurang enak dengan harga yang kurang bersahabat pula.

Di Ragusa saya memesan Special Mix, sedangkan Koes memesan Banana Split.
Yang jadi andalan disana ialah Spagheti ice cream dan Banana Split.
Special mix yang saya pesan isinya 4 scoop es krim berbagai rasa, nougat, vanila, coklat, dan stroberi serta taburan kacang.
Sedangkan banana split nya Koes isinya 3 scoop es krim beda rasa dengan potongan pisang dan taburan kacang, jeli2 kecil (kalau gak salah ya, abis gatau namanya), dan sedikit siraman coklat di atasnya.

Kalau soal rasa es krim home made dan tanpa bahan pengawet ini sih kita bilang standar aja, bagi yang tidak suka manis harus dicoba es krim Italia ini, karena rasanya tidak terlalu manis dan teksturnya sangat lembut.
Jadi mudah sekali untuk meleleh jika tidak cepat memakannya.
Ohya soal taburan kacang, buat yang tidak suka harus bilang, karena rata2 es krim yang kita pesan itu pasti ada taburan kacangnya.

Tempat Ragusa ini betul2 masih mempertahankan ke-asliannya, jadi interior, furniture, sampai mesin kasirnya sudah jadul bangetsss..
Maklum, konon Ragusa ini sudah ada sejak tahun 1932 loh !!!
Di dinding2nya terdapat foto2 Ragusa pada jaman dahulu dan beberapa ukiran lainnya.
Tetapi pelayanan agak kurang, karena beberapa pelayan kurang ramah.

Setelah menghabiskan es krim pesanan, kita langsung meluncur ke MKG (Mal Kelapa Gading), tapi sebelum itu saya tergiur untuk membeli kue cubit yang ada di depan Ragusa, tapi pas kita tanya harga sekotak isi 10, harganya Rp 15.000. Ahhh kok mahal sih, masa untuk kue cubit seimut itu harga per buahnya seribu lebih..
Pas kita tawar 10ribu, abangnya langsung nyuekkin kita.
Ya uda bye2 deh kue cubit dan abangnya yang belagu itu...
Masih banyak kok yang lebih worth it dari yang dijual si abang ;D

Segitu dulu review mengenai Ragusa Es Italia, kalau iseng2 lewat jalan Veteran boleh deh sekedar mampir.


Special mix : Rp 18.000
Banana split : Rp 27.000
Air putih : GRATIS


Ragusa Es Italia
Jl. Veteran I no.10
Jakarta Pusat

Jumat, 24 September 2010

Coba-Coba Makanan Jerman di Die Stube

Acara makan kita kali ini Koes yang menentukan, oleh karena itu dia jadi rajin googling dan baca2 review dari blog orang.
Tidak tahu dari mana sumbernya, tahu2 dia menemukan tempat makan ala2 Jerman di kawasan Kemang, namanya Die Stube.
Saya sendiri baru mendengar nama tersebut, maklum saya kan AGT (anak gaul Tangerang) bukan AGJ (anak gaul Jakarta) hahahaaa..
Karena belum pernah mencicipi makanan ala orang Jerman, akhirnya saya dan Koes sepakat untuk kesana hari minggu nanti sepulangnya dari gereja di Menteng.

Hari minggu waktu itu tepatnya tanggal 29 Agustus, kita pergi ke gereja Theresia dulu di Menteng. Kita ikutan misa yang jam 7 malam dan selesainya sekitar jam 8an.
Sepulang dari sana barulah kita meluncur ke Kemang. Karena Koes sudah tahu letak restonya jadi kami tidak mutar2 untuk mencari resto tersebut.
Restonya ini sedikit unik, tampak depan tidak seperti sebuah resto malah terkesan kaya tidak ada kehidupan karena resto ini tertutup sekali, sekalinya ada jendela tapi tidak pernah dibuka kayanya.
Pas mau masuk saya dan Koes agak sedikit ragu2 karena takut salah masuk. Pintunya itu tidak seperti pintu2 resto lainnya, pintu Die Stube ini hanya berupa satu pintu kecil yang terbuat dari kayu.
Dari depan memang boleh dibilang seperti tidak ada kehidupan, tapi pas kita buka pintuuu..wowww suasana remang2 plus pernak-pernik ala Jerman yang menghiasi seluruh ruangan membuat kita cukup terkejut.
Ruangannya memang tidak terlalu besar tapi interiornya itu yang membuat saya menyukai tempat ini.
Di dalam resto ini ada mini bar, proyektor, tv besar lengkap dengan speaker2nya.
Beberapa orang asing juga terlihat sedang menikmati minuman mereka.
Tapi bukan berarti resto ini tidak cocok untuk sebuah keluarga yang membawa anak kecil loh, buktinya waktu saya kesana ada beberapa keluarga yang datang berombongan sampai anak2nya dibawa juga.
Jangan bayangkan disana berisik karena alunan music2 RnB atau apalah itu namanya, semua itu tidak ada, yang ada suara berisik orang2 yang lagi nonton pertandingan F1 yang disiarkan melalui proyektor waktu itu. Saking serunya sampai pada teriak2 hebohh..

Waktu kesana kita bingung mau pesan apa, baca menunya pun kita tidak mengerti..hahahaha..
Akhirnya si Koes manggil pelayannya minta dijelasin menu apa yang sering dipesan orang disana.
Setelah pelayan menjelaskan, pilihan kita jatuh pada paket untuk dua orang yang namanya butcher bowl. Daripada repot2 mending pesan paket deh, isinya pun cukup lengkap, ada 2 sosis besar2 yang satu sapi dan yang satu lagi ayam. Selain itu ada juga rebusan kaki B2 (non-halal), dan satu lagi saya lupa namanya. Semua itu dihidangkan dalam mangkuk yang besar lengkap dengan segunung mash potatonya.
Ohya ada satu lagi namanya roast potatoes, semua itu ada dalam satu paket yang kita pesan.
Untuk minumnya saya pesan ice lemon tea dan Koes pesan ice tea.
Soal rasa ya lumayanlahhh, tapi yang paling saya suka itu adalah sosis sapinya, kalau yang ayam kurang greget..
Mash potatonya kalau kata Koes agak kebanyakan merica, tapi tetap dihabisin juga sama dia..fiuhh..
Roast potatonya juga lumayan kok, kalau dipikir-pikir makanan Jerman masih diterima lah sama lidah kita.
Oh ya minuman yang kita pesan bisa refill loh, tapi kita tahunya pas belakangan pas makanan sudah habis, padahal pas makan minumnya ngirit2.hehehe..

Karena review kali ini juga tidak disertai foto, maka lebih enak kalau langsung mengunjungi websitenya aja ya : www.diestube.com
Di usahakan foto2nya menyusul biarpun cuma pakai kamera hp. :D

Alamat Die Stube : Plaza Bisnis Kemang, Ground Floor. Jalan Kemang Raya no 2 Jakarta Selatan

Butcher bowl : Rp 99.000
Ice tea : Rp 10.000
Ice lemon tea : Rp 12.500
Service charge (7%) : Rp 8.505
Tax : Rp 13.001

Total : Rp 143.006

Holycow si Steak Hotel

Waktu lagi nonton berita pagi di TV tiba2 ada liputan tentang tempat makan steak ini. Sayangnya waktu itu tidak diberitahu namanya apa, hanya dikatakan bahwa tempatnya ada di daerah Jakarta Selatan.
Nah menurut berita yang waktu itu saya dengar katanya menu andalan tempat makan ini ialah steak wagyu. Eitsss..kalau yang sudah pada tahu pasti bilang "wahh steak wagyu mah uda pasti mahal nihh.."
Nah itu dia uniknya tempat makan ini, mereka menyediakan steak wagyu dengan harga yang sangat terjangkau tetapi dengan rasa yang mirip2 dengan steak wagyu di hotel2.

Akhirnya karena penasaran dengan berita di TV pagi itu, saya langsung tanya2 sama mbah google dan ketemulah satu nama yang sedikit unik menurut saya yaitu Steak Hotel by Holycow. Rupanya Holycow ini sudah banyak reviewnya lohh..
Dari hasil googling maka ketemulah nama dan alamat tempat ia berada.
Setelah itu saya langsung bilang ke Koes supaya nanti malam mingguan coba makan disana saja.hehehe..
Habisnya saya penasaran banget, menurut berita di TV dan review dari teman2 blogger steaknya si Holycow ini enakkkk dan wajib dicoba.
Terus katanya sebelum tempatnya buka aja sudah banyak yang nangkring disana, dan kalau datang malaman siap2 deh masuk dalam daftar panjang waiting list.

Tanggal 18 Juli kemarin akhirnya saya dan Koes menyempatkan diri untuk mencoba steak tersebut. Karena takut masih rada rame, malam itu kami tidak langsung ke TKP melainkan main2 dulu di PIM.
Dari PIM sekitar jam 10an malam barulah kita meluncur ke TKP. Antrian sudah tidak terlihat lagi, tapi kita tetap harus menunggu sekitar 3 orang lagi.
Setelah nama si Koes dipanggil, duduklah kita dengan manis bersama orang lain yang semeja. (masalah tempat duduk memang sudah ada yang atur jadi kalau lagi rame jangan harap 1 rombongan bisa makan satu meja).

Kunjungan pertama kita waktu itu berbuntut kekecewaan karena kesalahan salah 1 orang pelayan disana.
Masalah pertama, saya melihat orang lain yang menunggu pesanan datang dikasih keripik buat nyemil2, tapi saya dan Koes cuma bisa memble tidak diladenin karena pada saking sibuknya.
Masalah kedua, setelah saya duduk si pelayan bukannya langsung nyamperin dan kasih menu, eh malah saya yang harus manggil2 mereka.
Dan masalah ketiga yang paling membuat saya jengkel dan sebel banget nih.. waktu mau mesen kita bilang ke sipelayan pesan 1 wagyu rib eye dan 1 Australian sirloin, terus si pelayan bilang kalau yang tersisa cuma wagyu, ya sudah si Koes saja deh yang pesan duluan nanti saya cobain dulu punya dia (seperti biasa).
Tidak lama kemudian datanglah 2 cewe gemuk2 (hehehe..) duduk persis disebelah kita dan mereka dilayani oleh pelayan yang berbeda dengan pelayan yang melayani kita tadi. Lalu mereka bilang, "saya pesan Aust sirloinnya dua ya..", ehh tau2nya si pelayannya bilang kalau Aust sirloin tinggal 1..
Lohhh2...gimana iniii..?? Kok pas tadi saya pesan katanya sudah habis..ck..ck..
komunikasi diantara mereka kurang baik kayanya..

Merasa kesal karena ulah para pelayan tersebut akhirnya Koes melapor kepada sang empunya dan mereka meminta maaf atas kejadian tadi.
Biarpun mereka sudah minta maaf tapi kok rasanya masih jengkel ya, jadi wagyu yang tadinya mungkin berasa nikmat jadi biasa aja.
Pas sampai rumah pun tiba2 perut saya mendadak jadi tidak enak, wahh jangan2 perut saya tidak cocok nih dengan daging sapi impor, biasanya makan yang lokal sih..hahahha..

Biarpun begitu saya tetap akan mencoba steak disana lagi karena rasa steaknya memang lumayan enak, berhubung waktu itu ada masalah sedikit mungkin saya jadi kurang bisa menikmati makan steaknya.


Kunjungan Kedua:
Tanggal 15 Agustus Koes mengajak saya untuk makan disana lagi, kali ini kita datangnya agak pagian alias jam 8an malam karena takut Aust sirloinnya habis lagi.
Resiko datang jam segituan ya kita harus rela ngantri dan menunggu nama kita dipanggil. Kira2 15-20 menit akhirnya nama kita dipanggil juga dan kita dapat tempat duduk yang di dalam dan lagi2 semeja dengan orang lain.
Begitu disamperi oleh pelayan kita langsung bilang mau pesan Aust tenderloin, terus si pelayan bilang kalau Aust tenderloinnya habis tinggal yang sirloin. Ya sudah gak apa2 deh yang penting masih kebagian.
Kita sengaja tidak memesan wagyu karena pada kunjungan pertama sudah mencoba maka pada kunjungan kedua ini kita memang niat untuk mencoba Aust sirloin atau tenderloinnya.
Pelayanan kali ini jauh lebih memuaskan dari yang sebelumnya, padahal pada kunjungan kedua saya ini keadaan disana lebih ramai dari sebelumnya.
Ohya setiap makan steak disana kita selalu pesan minumnya green tea (bisa refill atau tidak refill), mungkin karena kebanyakan minum green tea ini jadi setiap habis makan disana perut saya jadi tidak enak.

Buat yang suka nge-Tweet, jangan lupa pas lagi disana update tweet kita tentang Holycow dan tunjukkan kepada empunya supaya dapat tiramisu gratis (entah masih berlaku atau tidak).
Secara keseluruhan Steak Hotel ini memang patut dicoba, selain karena rasanya yang lumayan enak, harganya pun tidak bikin kantong bolong.

Steak Hotel by Holycow ini adanya di Radio Dalam daerah Jakarta Selatan, buka dari jam 18.30 sampai habis.
Jika memesan steak, kita akan ditawari 3 pilihan sausnya, ada barbeque, black pepper dan mushroom. Yang baru saya coba barbeque dan mushroom dan menurut saya saus mushroom lebih pas untuk makan wagyu ataupun Aust sirloin (tergantung selera masing2).

Maaf review kali ini tidak ada foto, soalnya hp sama laptop lagi tidak akur jadinya tidak bisa transfer foto deh... T_T
Nanti diusahakan fotonya menyusul walaupun rada2 gelap dan buram.hehehe..

Wagyu rib eye : Rp 95.000
Aust sirloin : Rp 45.000
Ice tea refill : Rp 10.000


-Update-

Sabtu kemarin tanggal 18 Februari 2012 malam, Koes tiba-tiba mengajak saya makan di Holycow Steak (lagi). Padahal dia paling ribet kalau diajak makan yang panggang-panggangan, selalu kebanyakan saya yang ajak, mana pas tanggal 14 Februari kemarin kita baru makan steak juga di Steak 21 (Valentine kelabu lagi) -_-"
Berhubung saya doyan banget makan steak, ajakan dia saya iya-in aja dech.

Lalu meluncurlah kita ke TKP Holycow di Radio Dalam, FYI: si Holycow ini sudah buka cabang di daerah Senopati dan ada juga di Orchard Rd Singapur lohh..
Terus rencananya kita mau pesan Prime Tenderloin tapi katanya habis, jadi terpaksa pesan Prime Sirloin. Minumnya saya pesan ice tea yang green tea (refill) dan Koes air mineral.

Waktu kita kesana suasana antrian sudah tidak separah terakhir kita datang, hanya menunggu sekitar 5menit langsung dipanggil dech.
Tempatnya pun sudah agak diperlebar sedikit dan masih dalam tahap renovasi.

Pesanan kita datang agak cukup lama, selagi menunggu kita nge-Tweet dengan mention @holycowsteak terus tunjukkin ke salah satu pelayan dan datanglah si free cupcake, tadinya kita pengen tiramisu tapi kehabisan terus.Hikss..

Setelah 10 menitan, pesanan kita datang. Ehhmm kok punya si Koes lebih besar ya dari saya..ggrrrr..
Sekarang sudah banyak yang berbeda dari Holycow ini, rasa saus bbq nya sudah tidak seperti dulu, menurut saya yang sekarang terlalu kental, kalau saus mushroom nya masih oke banget.
Selain itu sayurannya pun sudah diganti dengan bayam organik, untuk yang satu ini saya kurang sreg karena sudah terbiasa makan steak pakai campuran jagung, wortel dan kacang polong.
Ohya ada satu lagi yang bikin kita agak sedikit kaget ternyata harganya sudah naik sodara-sodara !!!
Kenaikannya pun cukup signifikan, jadi bisa dibilang si Holycow ini bukan "steak rasa hotel dengan harga pinggir jalan" lagi.

Untuk daging, tingkat kematangan semua masih oke dan kita cukup puas.
Ehmm bisa tambah jarang deh makan Holycow lagi gara-gara harganya naik.hehehe..

Prime Sirloin (saus bbq)


Prime Sirloin (saus mushroom) "baru sadar saus nya tidak ke foto"



Aust Sirloin : Rp 65.000
Ice tea refill : Rp 13.500
Mineral water : Rp 10.000

Ada tax-tax nya sekarang:
Service Charge 2.5%: Rp 3.837
PB 1 10% : Rp 15.733


Steak Hotel By Holycow
- Jl. Radio Dalam Raya No. 15, Jakarta
- Jl. Bakti No. 15, Jakarta
- Orchard Rd, Asian Food Mall Lucky Plaza Basement 1, Singapore

Rabu, 08 September 2010

Jelajah Singapore-Malaysia-Thailand (pt.3)

Hari Keempat (Singapore - Malaysia)

Pagi itu sudah tanggal 1 Juni 2010, siangnya kita akan berangkat ke Kuala Lumpur dengan bus.
Sebelum check out dari hotel, pagi2 sekali kita sudah keluar untuk pergi makan di Boon Tong Kee.
Sebenarnya kita berdua tidak tahu pasti tempatnya dimana, hanya bermodalkan info dari Singapore Visitors Center yang kita datangi dua hari lalu di Orchard.
Kita hanya dikasih selembar peta hasil googling dan nomor bus yang harus kita naiki untuk kesana.
Dari hotel kita harus jalan kaki dulu ke halte terdekat, tapi ternyata kita menunggu di halte yang salah jadi bus yang dimaksud tidak mau berhenti..
Berdasarkan info dari orang India yang kita temui di halte tersebut, katanya kita harus ke halte yang di ujung seberang jalan sana, saya tidak tahu pasti namanya apa.hehehe...
Halte yang dimaksud ternyata cukup jauh juga dari hotel kita..hikss..
dan bentuknya pun saya bilang sama sekali tidak mirip halte, "halte" nya itu ada persis di depan toko retail seperti "Alfamart" hanya ditandai dengan tanda bus stop.

Setelah naik bus, kami tidak bisa tenang karena harus memperhatikan setiap pemberhentian bus. Menurut si "mbak" yang ada di Singapore Visitors centre kita harus turun di pemberhentian ke sepuluh tapi namanya saya lupa2 ingat.
Di halte kesepuluh kita benar2 turun, tapi kita bingung harus kemana lagi ini???
Kebetulan waktu itu ada bapak2 tua lagi duduk2 di halte dan untungnya dia ngerti Inggris dikit2.hehehe..
Kita tanya dia dimana Boon Tong Kee? Trus dia bilang itu disana, kelihatan kok dari sini (kira2 begitulah omongannya) dan dia juga menunjukkan sebuah kantong yang ada tulisan Boon Tong Kee nya, rupanya bapak tua itu baru saja dari sana dan ngebungkus buat dibawa pulang.hahahaa..
Memang benar ternyata dari halte tempat kita turun si Boon Tong Kee ini sudah kelihatan, hanya jalan sedikit aja.
Ehmm tapi sebenarnya ini bukan kedai Boon Tong Kee yang dimaksud si Koes, ini tempatnya sudah seperti resto kecil gitu. Memang sih Boon Tong Kee ini ada beberapa cabang, tapi kita cuma ketemunya yang disana, ya sudah karena diuber-uber waktu juga akhirnya kita masuk kesana.
Disana kita pesan chicken ricenya dua dan satu piring ayamnya..
Nasinya dihidangkan cukup unik berbentuk kerucut walaupun porsinya imut2..
Kesan pertama saya mencoba nasinya, wihhh gurihhhh...dan saya belum pernah nemuin chicken rice segurih itu di Jakarta.
Dua chicken rice dan satu piring ayam serta dua es teh tawar kita hanya menghabiskan sekitar S$ 20.
Sehabis makan, kita cepat2 ke halte untuk kembali ke hotel karena waktu untuk check out sudah hampir tiba.hehehhe.
Perjalanan pulang ke halte di Little India untungnya tidak ada kendala sama sekali, kami bisa turun di halte yang benar.
Sampai hotel kita langsung beres2 barang trus check out deh.

Ehmm hotel kita ini memang tempatnya strategis dekat dengan stasiun MRT tapi letaknya ada di dalam komplek (seperti komplek pertokoan) jadi tidak ada taksi yang lewat.huhuhu..
Jadi kita berdua harus jalan kaki lagi ke halte yang tadi sambil gendong2 carrier.
Disana kita langsung dapat taksi yang supirnya pintar bahasa Inggris jadi kita sempat ngobrol2 dikit sama supirnya.
Tujuan kita waktu itu tentu saja ke Golden Mile, kita ke tempat ini berdasarkan rekomendasi dari bapak India yang ada di Albert Centre waktu itu (lihat cerita sebelumnya). Ternyata kesana tidak jauh sama sekali, paling hanya 10 menitan dari tempat kita naik tadi. Ongkosnya saja hanya sekitar S$ 5.
Golden Mile ini sebuah gedung yang cukup besar, di dalamnya ada pertokoan yang menjual macam2. Ada baju, tempat makan, sampai yang jual sayur2an pun ada.
Nah khusus bagian depan semuanya penuh dengan agen2 yang jual tiket bus ke berbagai tujuan di luar Singapore, misal Penang, Malaka, KL, sampai ke Thailand juga ada.
Kita sampai keluar masuk beberapa agen untuk membandingkan harga, kita memang sengaja mencari harga yang termurah.hehehehe..
Setelah membanding-bandingkan dan mempertimbangkan beberapa aspek, misal kenyamanan dan ketepatan waktu, akhirnya kita membeli tiket bus Sri Maju di salah satu agen.
Harga memang bukan yang termurah, tapi kita juga mempertimbangkan sisi lain selain murah.
Tiket satu orangnya S$ 25 (termasuk satu botol air mineral) untuk tujuan KL, sebenarnya kita harus turun di terminal Pudu Raya tetapi waktu itu Pudu Raya lagi renovasi jadi tutup sementara.
Jadinya terminal Pudu Raya dialihkan sementara di Bukit Jalil, disanalah kita akan turun sesampainya di Malaysia.
Bus Sri Maju yang akan kita tumpangi berangkat pukul 15.00 waktu Singapore. Karena masih banyak waktu, kita sempatkan dulu untuk keliling2 gedung Golden Mile.
Tepat pukul 15.00 bus kita berangkat, saya senang sekali dengan bus ini. Selain busnya bersih banget, bangkunya juga enak banget legaaaa...
Posisi bangkunya 2-1, kita duduk yang 2 bangku. Waktu itu penumpangnya hanya 5 orang, wahh makin enak aja deh..
Selain bus yang bersih, bangkunya lega, ac dingin, ternyata TV nya sudah LCD lohh!!!
Oh iya waktu kita beli tiket bus, kita juga dikasih kartu imigrasi Malaysia yang harus di isi.
Kira2 pukul 15.45 (waktu Singapore), kita tiba di imigrasi Singapore, disini kita turun tapi tidak perlu bawa barang2 atau koper2 kita, cukup paspor dan kartu keberangkatan kita (didapat waktu di pesawat dari Jakarta-Singapore).
Suasana cukup sepi waktu itu, jadi semuanya berjalan cepat dan kita langsung naik ke bus lagi. Tidak sampai lima menit kita sudah tiba di imigrasi Malaysia, disini kita harus turun dengan membawa semua barang2 kita untuk di scan.
Imigrasi Malaysia di Kompleks Sultan Abu Bakar ini tidak sebesar di imigrasi Singapore tadi, tempatnya cukup kecil hanya seadanya, yang jaga pun hampir semuanya wanita, untungnya mereka ramah2 loh, tidak seperti yang kebanyakan orang bilang...
Mungkin yang galak2 itu adanya di imigrasi International Airportnya Malaysia kali ya..hehehe..
Sesudah pasport kita dicap, kita harus men-scan barang2 kita, baru deh naik bus lagi..
Sesudah dari imigrasi Malaysia tadi baru deh kita bisa menikmati perjalanan waktu itu karena kita tidak akan turun naik kaya tadi lagi, KECUALI kalau bus berhenti di tempat istirahat dan kita mau pipis atau apalah itu namanya.
Di perjalanan kita akan disuguhi dengan film hollywood lengkap dengan speakernya yang sudah stereo kayanya, kita jadi berasa nonton pakai home theatre..hehehe..
Bus akan berhenti beberapa kali termasuk pemberhentian sekali untuk makan.
Pas jam 17.25 bus berhenti di tempat yang banyak tukang makanannya, seperti food court gitu tapi saya tidak tahu namanya apa.
Disana Koes beli nasi lemak RM 6 karena kelaparan, oh iya untuk menghemat kita share makannya, alias sepiring untuk berdua.hahaha..

Sekitar jam 20.30 (waktu Malaysia) sampailah kita di pemberhentian terakhir bus yaitu di terminal Bukit Jalil.
Karena kita berdua baru pertama kali menginjakkan kaki di negara tersebut, kita berdua benar2 kebingungan waktu itu.
Tujuan kita kan Bukit Bintang, tapi menurut info yang kami dapat untuk kesana kita harus naik LRT atau monorail gitu.
Nah sampai Bukit Jalil kita rada bingung cari stasiun LRT nya, untung bapak2 tua yang tadi satu bis sama kita mau menunjukkan tempatnya.
Rupanya dia juga mau naik LRT, ternyataaa stasiun LRT Bukit Jalil itu tidak jauh dari terminalnya, pas keluar dari terminalnya, cukup tengok kanan maka terlihatlah jembatan untuk jalanan LRT nya.
Memang sih untuk mencapai stasiunnya kita harus jalan kaki sedikit, pas lagi jalan di pedestrian tiba2 disamperin sama pemuda ga jelas gitu nawar2in brosur apalah itu sambil ketawa2 salah tingkah...hiiiii..baru nyampe sudah ketemu orang aneh...

Untuk naik LRT ini kita harus beli kartunya dulu di loket. Cukup sebutkan saja kemana tujuan kita dan si penjaga loket akan bilang berapa biayanya terus dikasih deh tiketnya.
Cara naik LRT ini berbeda loh dengan MRT di Singapore, kalau mau naik MRT kan kita cukup men-'tap' kan saja kartu kita, nah kalau mau naik LRT kita harus masukkan kartunya dan dia akan keluar lagi, nanti pas kita sudah sampai tujuan, kita harus masukkan lagi kartunya tapi tidak akan keluar lagi, jadi jangan ditungguin yah.hehehe..
Ya gitu bedanya dengan kartu standar MRT / Ez-Link di Singapore yang kita bisa bawa kemana-mana, kalau kartu LRT hanya untuk satu kali pemakaian saja.

Karena tujuan kita ke Bukit Bintang, kita harus turun di stasiun (stesen dalam bahasa Melayu) Hang Tuah, nanti disana kita ganti naik monorail ke Bukit Bintang.
Tiket LRT dari Bukit Jalil ke Hang Tuah RM 3.80 untuk 2 orang dan tiket monorail dari Hang Tuah ke Bukit Bintang RM 2.40 untuk 2 orang.
Sesampainya di Bukit Bintang kita cukup bingung untuk mencari hotel, rencananya kita mau nginap di hostel backpacker (seperti tujuan awal), akan tetapi entah mengapa dari beberapa daftar hostel yang kita bawa tidak satupun yang masih menyisakan bunk bed untuk kita..rata2 yang tersisa hanya private room bukan dorm..huhhh gagal lagi deh mau ngerasain tinggal di dorm..
Waktu itu kita sempat keluar masuk beberapa hotel, terutama hotel2 yang ada di dalam buku yang kita bawa.
Tapi tidak satupun dari hotel2 yang direkomendasikan buku itu kita sreg..
Entah itu sudah full, harga tidak sesuai, kotor, serangga2, dll.
Kita juga sempat masuk di hotel Putra Bintang, yang katanya di buku hotel ini murah dan bersih, nyatanya pas kita kesana benar2 keadaannya sangatt jauh dari kata bersih.. Padahal dari lobby sudah agak meyakinkan, pakai lift pula.
Tapi pas kamar dibuka, jrengg2.. pertama: lampu2 remang2, kedua: temboknya kusam banget boo, ketiga: spreinya lusuhhhh, keempat: kamarnya rada kecil jika dibandingkan dengan kamar2 hotel yang kita lihat sebelumnya.
Saat itu kita langsung kecewa dan langsung cari hotel lainnya lagi, pas keluar dari hotel tersebut ada bapak2 yang tahu kita lagi cari2 hotel dan dia nunjuk ke arah sebrang jalan.
Dia kaya bilang "itu loh disana ada hotel" (maklum dia ngomongnya kaya pakai bahasa isyarat gitu, jadi kita ngartiin sendiri..hehehe.)
Terus kita lihat memang di seberang sana ada yang sedikit eye catching, namanya hotel Sabrina. Lobbynya ada di lantai 2, jadi pintu masuk ada di lantai 1 dan cuma seadanya. Jadi kalau tidak eye catching orang pasti tidak tahu kalau itu pintu masuk hotel, lha orang pintunya kecil gitu kaya pintu rumah biasa tapi ini pintu kaca, pas buka pintu uda ada tangga.
Rupanya hotel ini termasuk masih baru kayanya baru setahunan deh, yang unik dari hotel ini dekorasinya yang benar2 menorrr serba merah meriah..hahaha..
Kayanya yang punya orang India deh, soalnya kelihatan sih dari pernak-pernik hotelnya.
Semua lantai hotel ini sudah dilapisi karpet tapi bukan karpet yang bagus yah..
Harganya pun masih bisa di tawar2 loh, kamarnya pun bersihhh..
Kurangnya cuma 2, yang pertama: kamarnya kecilllll bangettttt...ruang untuk bergerak cuma ada di balik pintu, sampai2 lorong hotel pun kecilnya amit2, cuma cukup untuk satu orang lewat. Yang kedua: walaupun TV sudah LCD tapi tidak ada channelnya, sekalinya ada gambarnya acak2an dan tidak ada suara..payahhhh!!!
Harga kamar disana per malamnya RM 70 (harga saat itu hasil dari tawar menawar), tidak ada breakfast.

Malam itu setelah mendapat hotel yang pas dan selesai beres2 diri alias mandi dan sebagainya, tentunya kita harus cari makan malam donk..
Kalau kata orang2 kan cari makan di Bukit Bintang itu bisa di jalan Alor (satu gang setelah jalan Bukit Bintang), ya sudah kita coba kesana deh.
Tapi kok disana banyakan bentuk2 restoran gitu ya, padahal kan kita carinya yang kedai2 biasa aja.
Akhirnya setelah sampai di ujung jalan Alor, kita menemukan kedai nasi goreng (kalau di Jakarta), karena tidak ada pilihan lain akhirnya kita coba untuk makan disana.
Pas mau duduk ternyata banyak laki2 yang makan disana, saya cewe sendiri loh, entah karena mereka tahu kita ini orang asing atau karena kita berdua bicara dengan bahasa Indonesia, mereka jadi melihat ke arah kita terus.. ini beneran lohhh..makannya saya sempat risih dengan mereka, saya bilang ke Koes, "kok disini banyak alay nya ya"
Itu hari pertama kita sampai di Malaysia dan sudah bertemu dengan orang2 seperti itu jadinya kita sempat men-cap kalau negara tersebut tidak senyaman negara tetangganya yaitu Singapore.
Harga nasi goreng waktu itu RM 3.5 dan saya minta minumnya teh tarik RM 1.3.
Karena saya tidak nyaman berada disana lama2, akhirnya kita cepat2 menghabiskan makanannya.

Rupanya waktu itu Koes belum kenyang dan mengajak saya untuk masuk ke salah satu kedai lagi, disana tidak ada namanya, yang pasti jualannya macam2 ada nasi lemak, siomay, otak2,dll.
Koes pesan nasi lemak RM 5 dan minumnya teh tarik lagi RM 1.8, memang lebih mahal tapi lebih enak daripada teh tarik di tempat nasi goreng tadi.
Dari sana kita jalan lagi menyusuri jalan Alor, tiba2 kita menemukan tempat makan ala kaki lima lagi disana, yang jualan satu keluarga dari bapak, ibu, sampe anak2nya.
Jualannya juga macam2, dari nasi goreng, tomyum, sampai prasmanan juga bisa.
Disini kita pesan tomyum seafoodnya RM 6 tapi rasanya standar aja.
Dari sana kita jalan lagi dan berhenti di toko loong kee, disini Koes beli kue yang isinya daging RM 1.5 dan juga 1 puding mangga dan 1 puding coklat, masing2 RM 1.
Setelah dari toko ini, selesailah acara kita malam itu. Kita kembali ke hotel dan langsung istirahat supaya besok bisa segar lagi, karena besok waktunya walking tour di Kuala Lumpur :)

Chicken rice Boon Tong Kee






Bus Sri Maju (Singapore-KL)




Dalemnya si Sri


Jembatan yang menghubungi imigrasi Singapore dan Malaysia


Bye2 Singapore


Welcome to Malaysia


Gerbang tol nya Malaysia


Tempat pemberhentian bus untuk makan


Koes dengan nasi lemaknya (makanan pertama di Malaysia)


"Stesen" Bukit Jalil


Bingunggg ???!!!@@@###?!


Dalemnya LRT


Tangga menuju lobby hotel Sabrina


Meriah yah ruangannya




Lorong hotel yang cuma muat 1 orang


Ini dia kamarnya


TV yang tidak ada channel nya


Kamar mandi


Tomyum2an...


- Bersambung -

Senin, 23 Agustus 2010

Jelajah Singapore-Malaysia-Thailand (pt.2)

Lanjutan cerita sebelumnya :

Hari Kedua (Singapore)

Hari kedua di Singapore kami putuskan untuk walking tour alias keliling2 dengan berjalan kaki ria seharian.hehehe..
Rute nya kita mengikuti petunjuk2 yang ada di buku mba Claudia Kaunang yang kita beli sebelumnya walaupun tidak semua rutenya kita jalani.
Jika dibuku mbak Clau mulainya dari sekitaran Little India, kalau kami langsung dari Bugis. Padahal tempat kami menginap ada di daerah Little India loh, tapi berhubung kami mau mempersingkat waktu jadi kami mulainya dari Bugis.
Jadi dari hotel Tekka tempat kami menginap jalan sedikit ke stasiun MRT (untungnya hotel ini sangat dekat dengan stasiun MRT Little India), lalu naik MRT ke Bugis.
Turun di Bugis kita keluar melalui pintu yang mengarah ke Bugis Junction karena kita mau mampir di KFC dulu untuk makan cheese fries kesukaan si Koes.
Cheese fries di KFC Singapore memang enak dan patut untuk dicoba, makannya cheese fries ini menjadi tujuan utama Koes kalau ke Singapore, dan sayangnya cheese fries ini tidak bisa kita temukan di KFC Indonesia dan Malaysia.
Harganya pun masih relatif terjangkau, satu porsinya hanya S$ 3.5
Setelah makan cheese fries kami sempat membeli buah potong di salah satu stand yang ada di seberang KFC, untuk 1 potong pepaya dan semangka S$ 1.8

Sebelum memulai walking tour hari itu, kami sempatkan dulu untuk jalan2 di Bugis Junction hanya untuk sekedar lihat2.
Tetapi begitu saya melihat angka2 S$ 10 dan S$ 5 pada salah satu toko baju, mata saya langsung jelalatan dan langsung mendatangi toko tersebut.
Nama tokonya itu Cotton On, saya rasa toko ini sudah familiar namanya apalagi di Singapur. Toko ini memang terkenal menjual baju,dll dengan harga yang sangat terjangkau, tokonya pun tersebar dimana-mana di Singapur.
Karena menemukan baju dan rok yang saya suka, akhirnya keluarlah uang S$ 10 untuk satu buah dress dan S$ 5 untuk satu buah rok di toko itu.
Koes juga tidak mau ketinggalan, melihat saya beli2an, dia juga tertarik untuk beli sandal jepit disana yang harganya hanya S$ 5 jika kita membeli barang yang lain juga.

Selesai dari sana kita ke arah Bugis Street, dari Bugis Junction cari yang ke arah Bugis Street dari sana kita harus nyebrang jalanan dulu.
Sampai Bugis Street masuk terus sampai belakang bertemu dengan jalan raya yang tidak terlalu besar, nah di seberangnya itu ada gedung Albert Centre yang ada food courtnya. Kita kesana karena mau sarapan dulu, seperti yang saya tuliskan pada bagian pertama, bahwa food court disana makanannya murah2 banget, dengan S$ 2 saja kita sudah dapat paket nasi lemak.hehehe..
Karena masih pagi jadi keadaan tidak terlalu ramai dan kami dengan mudah mendapatkan tempat duduk disana. Oh iya waktu itu tiba2 kami sebangku dengan salah satu TKI asal negeri sendiri yaitu Indonesia. Dia tahu kalau kami berasal dari Indonesia makannya kami diajak ngobrol sama dia. Dia cerita tentang dirinya yang kerja sama orang bule dan jarang banget makan nasi, palingan cuma hari2 libur saja dia baru bisa keluar terus cari makanan yang berbentuk nasi..ck..ck..

Kembali ke cerita, waktu itu disana saya pesan paket nasi lemak lagi S$ 2 dan Koes memesan nasi hainam lagi S$ 3. Karena merasa belum kenyang, setelah makan nasi hainamnya si Koes beli lagi nasi paket lemak yang sama dengan saya..dasarrr...
Setelah makan, baru deh kita mulai walking tournya..
Dari Albert Centre kita nyebrang kembali ke arah Bugis Street, masuk ke dalam terus saja sampai keluar lagi, kemudian nyebrang ke arah Bugis Junction.
Dari Bugis junction lihat2 arah yang ke North Bridge Road, nah disinilah kita melakukan kesalahan. Seharusnya kita belok kiri kalau mau ke Raffles Hospital tapi kita malah belok kanan langsung ke arah National Library, dari situ kami tidak sepenuhnya lagi bergantung pada buku yang kita bawa, tetapi juga mengandalkan kesok-tauan kita.hehehe..
Dari jalan utama North Bridge Road jalan terus sampai bertemu perempatan, dari sana kita belok kanan (lihat petunjuk arah National Library), kalau sudah ketemu National Library yang ada diseberang kita, ya sudah kita tinggal menyebrang saja kalau kita mau masuk kesana.
Eitsss jangan salah ya, kita kesana bukan untuk baca2 buku di librarynya atau nongkrong2 disana, tapi kita cuma mau numpang isi botol minum kita.hehehe..(air mahallll boo di Singapur, walaupun katanya air disana bisa diminum langsung tapi kita tidak terlalu percaya, hanya yang benar2 dikasih tanda kalau kran tersebut memang berisi air yang sudah steril barulah kita ambil).
Di sana memang ada kran air yang bisa diminum langsung, tepatnya dekat WC yang ada di bawah dekat librarynya.
Sebelum mengambil air gratisan, saya sempatkan dulu untuk lihat2 bagian luar librarynya. Keren juga loh, tata cara peminjaman dan pengembalian buku juga sudah modern.

Selesai ambil air, kita naik lagi ke atas lalu keluar dari pintu utama National Library. Keluar dari pintu utama ini kita akan langsung berada di jalan Victoria St, dari sana kita ambil jalan ke kiri terus saja sampai melewati Bras Basah Complex.
Dari sana nanti kita akan menemukan lampu merah, nah kita menyebrang disini ke arah Chijmes. Chijmes ini tadinya merupakan sebuah gereja katholik tapi sekarang malah dijadikan kafe dan resto2.
Entah karena salah waktu atau memang tempat ini sudah tidak booming lagi kali ya, waktu kita datang siang itu seperti tidak ada kehidupan disana, tidak satupun saya lihat ada orang disana yang makan atau nongkrong2, cafe2 pun hanya ada beberapa yang buka itupun pengunjungnya masih terhitung jari.
Padahal yang saya dengar sebelumnya, tempat ini merupakan salah satu tempat nongkrongnya orang2 Singapura tapi begitu kesana ternyata berbeda 180 derajat dari yang saya bayangi. Saya sempat berpikir apa mungkin kehidupan disana baru mulai malam hari kah??!
Ahh bodo deh, kalau iya pun saya juga tidak terlalu tertarik untuk nongkrong2 disana, hanya sekedar ingin tahu saja bagaimana bentuknya.
Dari sana kita keluar lewat pintu belakang yang bersebrangan langsung dengan Raffles City Shopping Centre. Setelah nyebrang, kita masuk ke dalam mal tersebut dan cari petunjuk2 yang mengarah ke City Link Mall, untuk ketemu dengan City Link Mall ini kita dapat mengaksesnya melalui stasiun MRT City Hall (tapi ingat jangan sampai masuk ke stasiunnya). Pokoknya setelah menuruni escalator, persis di sebelah kiri ada petunjuk besar yang mengarah ke City Link Mall.

Di City Link Mall ini kita sempat mampir2 dulu di toko Adidas dsb..
Nah dari mall ini banyak petunjuk ke arah Esplanade, ikuti petunjuk tersebut.
Setelah ketemu Esplanade, keluar cari jalan utama (Esplanade Drive) kalau mau ke Merlion Park. Sebelum ke Merlion Park, kita masuk dulu ke gedung durian itu untuk ngadem.. Dari sana baru deh lanjut lagi untuk foto2 di depan patung Merlion dan latar gedung baru Marina Bay Sand.
Setelah foto2 kita lanjutkan lagi walking tournya, dari Merlion park lihat di bawah jembatan ada Starbucks, dari situ kita jalan terus melalui bawah jembatan dan tembus2 di Connaught Drive. Kalau ketemu dengan jembatan, tinggal belok kanan saja melewati jembatan tersebut. Setelah itu kita nyebrang dan bertemu dengan bangunan2 antik, ada Victoria Theatre, The Art House,dan Asian Civilization Museum.
Tapi kita tidak memasuki gedung2 tersebut hanya foto2 di depannya saja, dan tidak lupa kami mengambil foto di depan patung Raffles.hehehe..
Dari sana kita ambil jalan yang ke arah Boat Quay, untuk kesana kita akan jalan di pinggiran sungainya sambil sekali2 lihat ada perahu yang lewat.
Kalau sudah terlihat bangunan2 Clarke Quay diseberang jalan, kita akan bertemu dengan jembatan lagi, dari sana kita belok kiri menyebrangi jembatan tersebut lalu menyebrang lagi ke arah kanan menuju sebuah mall. Dari sana kita sudah bisa melihat Clarke Quay dari dekat walaupun jika ingin ke tempat cafe dan restonya kita harus menyebrang jembatan lagi..fiuhh.
Walaupun agak jauh dan kaki rasanya sudah mau copot tapi kita tetap nyebrang ke arah cafe dan restonya, karena rencananya kita akan naik bus dari depan sana untuk ke Orchard.
Tapi ternyata kita salah, di lobby utama cafe dan restonya kita tidak melihat adanya halte dan jadwal bus, hanya ada taxi.
Jadi mau tidak mau kita harus naik MRT dan itu artinya kita harus balik lagi ke stasiun MRT yang adanya nun jauh di seberang sana..hiks..
Untuk menghibur badan saya yang sudah minta diistirahatkan, saya membeli es krim yang harganya S$ 1 lagi, kali ini saya coba pakai roti.

Dari Qlarke Quay kita naik MRT ke arah China Town untuk cari makan disana. Untuk ke China Town dari Clarke Quay kita tidak perlu berganti kereta dan hanya beda satu stasiun saja. Jangan lupa untuk naik MRT yang ke arah Harbour Front jangan yang ke Punggol (lihat peta MRT Singapura).
Di China Town ini Koes mau makan di tempat kemarin dia makan mie goreng yang enak itu, yang ada di belakang area China Town.
Disana kita pesen mie goreng S$ 4 yang kemarin dan nasi goreng ayam S$ 5.
Setelah makan Koes sempat membeli buah pepaya potongan 80cent, lalu dari China Town kita lanjut lagi ke Orchard naik MRT. Maklum kemarin kita belum sempat keliling Orchard karena ngejar makan malam di Newton Circus.
Dari China Town ke Orchard by MRT kita harus berganti kereta di Dhoby Ghaut, cari yang jalur merah (North South Line) kalau sudah ketemu, naik MRT yang ke arah Jurong East dan turun di stasiun Orchard.

Pas keluar dari stasiun MRT dan masuk ke salah satu mall disana, kita bertemu dengan toko Cotton On lagi, kali ini tokonya lebih besar dan lebih ramai dari tokonya yang di Bugis Junction.
Disana kita masuk dan lihat2 lagi, karena sudah membeli beberapa baju tadi siang akhirnya saya memutuskan untuk tidak beli apa2 disana.
Ehh2 taunya malah si Koes yang beli sepatu disana, cape deh..
Memang sih sepatunya itu model kesukaan si Koes banget dan harganya pun relatif murah yaitu S$ 10.
Keluar dari mall tersebut kita cari jalan yang ke arah Lucky Plaza dan Takashimaya.
Kita sempat masuk ke Lucky Plaza untuk lihat2 parfum tapi hanya sebentar karena kebanyakan toko sudah pada mau tutup malam itu.
Keluar dari Lucky Plaza kita ambil jalan ke kiri, dari sana kita jalan terus saja mengarungi pedestrian tanpa arah tujuan yang pasti.
Di tengah2 perjalanan kami sempat membeli old chang kee 2 macam S$ 3.
Kami makan old chang kee sambil jalan kaki, tak jauh dari tempat kami beli Old Chang Kee, kami bertemu dengan Singapore Visitor Centre. Tadinya kami tidak tertarik untuk masuk kesana, tetapi saya teringat sesuatu yang perlu kami tanyakan disana.
Jadinya kami masuk juga kesana karena kami mau menanyakan dimana kami bisa menemukan chicken rice Boon Tong Kee yang terkenal itu.
Singapore Visitor Centre sepertinya memang benar2 dibuat untuk melayani turis sepenuhnya, hal tersebut bisa dilihat dari fasilitas2 yang disediakan disana seperti, ruangan yang nyaman dan ber-AC, mesin pijat kaki gratis, air minum gratis, berbagai macam brosur gratis, dan tentu saja customer service yang ramah2.
Pas kita tanya Boon Tong Kee, si wanita yang ramah itu langsung bilang "ohh Boon Tong Kee is a famous hainam chicken rice in Singapore..bla...bla.."
Lalu dia menjelaskan bagaimana kita bisa menemukan tempat makannya dari tempat kita menginap di daerah Little India.
Berhubung di sekitaran Boon Tong Kee tersebut tidak ada MRT, jadi kita harus naik bus kesana. Setelah menjelaskan, si wanita tersebut juga mem-printout kan petanya untuk kita. TOP deh pelayanannya..

Keluar dari Singapore Visitor Centre, kita ambil jalan ke kiri lagi, kalau ke kanan kembali ke arah Lucky Plaza.
Sebenarnya kita juga tidak tahu mau kemana, hanya mengikuti naluri kesok-tauan kita. Tadinya kita mau kembali ke stasiun MRT yang ada di mall ION tapi mall tersebut sudah cukup jauh dari Singapore Visitor Centre, jadi kita putuskan untuk meneruskan perjalanan dan berharap segera menemukan stasiun MRT terdekat.
Tapi lagi2 kita berbuat kesalahan, ternyata stasiun MRT yang diharapkan tidak kunjung terlihat walaupun kita jalan sudah cukup jauh lohh.

Sedikit tips jika berpergian ala backpacker :
Jika kita nyasar atau tidak tahu jalan, jangan dibuat seolah-olah itu menjadi masalah besar, nikmati saja semua itu, karena kita tidak akan tahu dalam perjalanan itu kita akan bertemu dengan hal2 yang tidak kita ketahui sebelumnya.
Apalagi jika Anda berada di negara kecil seperti Singapura, waduh kayanya kalau nyasar hampir tidak mungkin deh. Kalaupun Anda merasa tersesat, ada lebih baiknya bertanya pada orang lain.OK.
Makannya persiapkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum Anda mengunjungi tempat yang belum pernah Anda kunjungi. Itu akan sangat membantu sekali.

Kembali kecerita, waktu itu kita jalan sudah cukup jauh dan sempat melintasi pedestrian yang sudah sepi dan agak gelap, tapi saya percaya di sana walaupun sepi dan gelap masih aman untuk dilewati.
Hati kami sedikit terhibur ketika melihat lambang MRT di seberang jalan.horeee..
Hal tersebut membuat kami semakin semangat untuk cepat2 sampai di stasiun MRT yang dimaksud.
Pada akhirnya kami menemukan stasiun MRT yang kami harapkan, ternyata itu adalah stasiun Dhoby Ghaut, pusat interchange terbesar di Singapura. Stasiun ini juga berdampingan dengan Plaza Singapore yang ada Carefournya.
Makannya sebelum kita ke stasiun MRT, kita belanja dulu di Carefour, hal pertama yang kita beli adalah air mineral, beli di carefour paling murah lohh..
Setelah itu barulah kita turun ke stasiun MRT dan mencari MRT yang jalur ungu (North East Line) karena kita akan pulang ke Little India.

Hari ini kami berdua BENAR2 kelelahan, walking tour yang kita lakukan kayanya agak berlebihan.hehehe..
Akibatnya saya harus mengolesi betis saya dengan Salonpas Gel yang saya bawa dari Jakarta.
Mudah-mudahan besok gak kaya gini lagi deh..
Acara untuk besok, kita mau ke Sentosa dan Universal Studio..
Jadi malam ini badan harus dicharge dulu.hehehe..

Cheese fries KFC


Salah satu stand di food court Albert Centre yang menjual nasi lemak paket S$ 2 - S$ 3


Nasi lemak paket S$ 2


Hainam chicken rice di salah satu kedai Albert Centre


Gedung Albert Centre


Bugis Street


National Library




Lobby National Library


Kran air minum di National Library








Chijmes


Halaman Chijmes


Bagian dalam Chijmes






Keluar dari pintu belakang Chijmes, langsung nyebrang ke Raffles City Shopping Mall


Hotel Raffles yang muaahall


City Link Mall untuk menuju Esplanade


Esplanade (gedung durian)








Latar : Marina Bay Sand












Koes with Raffles statue


I LuV Museums










Jembatan Clarke Quay




Es krim S$ 1


China Town lagi








Singapore Visitors Centre (Orchard)




Hari Ketiga (Singapore)

Pagi itu kami bangun agak kesiangan dari yang sudah direncanakan, mungkin gara2 kecapean habis walking tour kemarin..
Hari ini sesuai rencana kami akan pergi ke Sentosa untk main Luge&Skyride, masuk Universal Studio dan malamnya nonton Song of the Sea.
Seperti hari2 sebelumnya, sebelum beraktifitas kami sempatkan dulu untuk makan pagi di Albert Centre. Walaupun kami jadi harus bolak-balik jika ingin ke Harbour Front (stasiun untuk ke Vivo City tempat penjualan tiket Sentosa).
Waktu itu pesanan saya masih sama dengan hari2 sebelumnya, yaitu nasi lemak paket.hehehe..
Si Koes juga pesan menu yang sama, tetapi rupanya porsi nasi lemak tersebut tidak sesuai dengan ukuran perutnya, jadi dia harus isi dengan makanan lain baru deh dia kenyang...Dia membeli mie apa gitu saya tidak tahu namanya S$ 3, tetapi kurang enak rasanya.
Setelah makan pagi, kami cepat2 ke MRT Bugis, dari sana kita akan naik MRT ke Harbour Front. Dari Bugis ke Harbour Front kita hanya berganti kereta satu kali di stasiun Outram Park, lalu naik kereta yang ke arah Harbour Front.
Harbour Front ini adalah pemberhentian terakhir jalur ungu (North East Line), jadi semua penumpang turun disini. Keluar dari stasiun kita langsung bisa akses ke mal Vivo City. Di lantai 3 mal ini ada loket penjualan berbagai wahana di Sentosa sekaligus stasiun Sentosa Express. Kita pilih naik Sentosa Express (semacam monorail) supaya tidak repot.
Sebenarnya ada banyak cara untuk menuju Sentosa Island, tapi Sentosa Express kami rasa paling efisien.

Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat2 di websitenya :
www.sentosa.com.sg

Kereta pertama Sentosa Express berangkat pukul 7 pagi (waktu Singapur) sampai tengah malam. Harga tiketnya untuk per orang S$ 3 untuk seharian, jadi kalau mau bolak-balik di AREA Sentosa sepuasnya tidak bayar lagi.
Kalau punya EZ-Link card, kita bisa pakai kartu tersebut untuk akses masuk ke stasiun Sentosa Express, nanti akan dipotong otomatis saldonya. Tetapi jika tidak punya kartu tersebut, maka kita harus antri dulu untuk beli tiketnya.
Loket Sentosa di lantai 3 Vivo City cukup ramai saat itu, kami terpaksa harus antri untuk beli tiket Song of the Sea, sebenarnya loket ini hanya melayani pembelian paket2, jadi kalau mau beli satuan (misal Luge saja) tidak bisa dibeli disana tapi bisa dibeli langsung di tempat permainan. (kecuali Song of the Sea).
Tiket Song of the Sea S$ 10 /orangnya untuk pertunjukkan jam 7.40 malam (ada 2 kali pertunjukkan tiap harinya: 7.40 dan 8.40 malam), kami memutuskan untuk beli tiket SOS di Vivo City karena takut kehabisan.
Setelah tiket SOS ditangan, kita naik Sentosa Express dan turun di Imbiah station karena disanalah kita akan main Luge&Skyride. Untuk sampai ke tempat permainannya, kita harus menaiki escalator berkali-kali, untung escalator, kalau tangga??
Sampai di atas atraksi pertama yang kita temui yaitu Images of Singapore, terus kita juga lihat Tiger Sky Tower, dll.
Tapi itu semua kita lewati dan langsung menuju tempat permainan Luge.
Untuk menikmati permainan ini kita harus membeli tiket S$ 17 per orangnya untuk 2 kali putaran luge dan skyride.
Setelah tiket dibeli, tangan kita akan dicap. Jangan lupa untuk memakai perlengkapan yang disediakan gratis, cuma helm doank sih.hehehe..

Awalnya saya agak takut juga untuk mencoba permainan ini, tapi tiket sudah terlanjur dibeli jadi mau gak mau yaa harus mau..hahaha..
Untuk peserta yang baru mau main akan diberikan briefing singkat tentang tata cara bagaimana mengendalikan luge yang benar dan aman.
Setelah itu baru deh dikasih maen, pertama-tama pelan aja deh tapi lama2 karena sudah terbiasa jadi tergoda untuk lomba2an lebih cepat dengan peserta lain. :)
Jadi luge itu semacam sepede datar, kaya mainan anak2 gitu.
Waktu kami main sudah ada 2 jalur, jadi kita bisa pilih mau lewat jalur yang mana. Jalur yang baru namanya Dragon Trail (kalau gak salah ya), nah jalur baru ini dibuat lebih banyak belok2an dan lebih menantang.
Untuk putaran pertama saya coba jalur lama aja deh, namanya juga pemula.hehehe..
Mencapai garis finish, kami langsung ke tempat skyride yang tempatnya masih dalam satu area untuk kembali ke atas.
Skyride ini hanya berbentuk kursi dengan pengaman seadanya (seperti yang ada di arena ski gitu), jadi kalau yang takut ketinggian mending jangan naik ini deh.
Sampai atas, kita naik luge lagi untuk putaran yang kedua. Kali ini saya dan Koes sepakat untuk mencoba jalur yang baru.
Ternyata memang benar, jalur yang baru tersebut dibuat berkelok-kelok tajam berbeda dengan jalur yang lama.
Sampai garis finish kita harus naik skyride lagi untuk kembali ke atas, setelah itu kita kembali ke Imbiah station untuk ke Waterfront station.
Keluar dari Waterfront station kita harus jalan sedikit untuk mencapai Universal Studio. Sebelum beli tiket kita foto2 dulu di depan bolanya yang terkenal itu.hehehe..

Kita kesana hari Senin tapi kok tetap ramai yah, apa karena hari biasa tiketnya lebih murah..
Yaa memang tiket Universal Studio hari biasa (weekday) lebih murah dibandingkan tiket untuk weekend.
Untuk weekday (one day pass) harga tiketnya S$ 66 (adult) dan S$ 48 (child), sedangkan untuk weekend S$ 72 (adult) dan S$ 52 (child).
Waktu itu sedang ada promo, jadi harga tiket sudah termasuk voucher S$ 10 untuk beli makanan dan S$ 5 untuk beli souvenir.
Atraksi pertama yang kita coba disana adalah Monster Rock, jadi kita akan lihat pertunjukkan musik rock yang dimainkan oleh zombie2 tapi kok zombienya gak ada yang seram sih..
Acara ini sangat membosankan, jadi banyak orang yang keluar sebelum pertunjukkan habis.
Atraksi kedua yang kami coba yaitu Lights, Camera, Action. Nah atraksi yang kedua ini cukup seru dan baru pertama saya coba.
Sebenarnya ini bukan atraksi seperti roller coaster atau apalah permainan yang menantang, tapi hanya sebuah tontonan unik, efek2 dari film terkenal dimainkan disana, pas terakhir saja tiba2 ada kapal besar masuk ke ruangan.hehehe...

Atraksi ketiga kami mencoba Accelerator, ini sih permainan anak2, kalau di Dufan namanya poci muter kali ya.hehehe..
Sebenarnya di sebelah Accelerator ini ada permainan yang menjadi unggulan di Universal Studio namanya Battlestar Galactica, tapi sayangnya waktu kami datang atraksi tersebut belum juga dibuka.

Jadi dari sana kami langsung menuju atraksi selanjutnya yaitu Revenge of the Mummy, kalau menurut review dari para blogger yang sudah lebih dulu mengunjungi tempat ini, mereka bilang satu2nya mainan paling seru di Universal Studio Singapore hanya Revenge of the Mummy, mungkin nanti setelah Battlestarnya dibuka, si Mummy bakal tergeser ketenarannya.hehehe..
Jadi dalam atraksi ini kita akan diajak "jalan2" dalam kegelapan dengan kecepatan tinggi. Satu baris kereta bisa diisi kira2 4 orang kalau tidak salah. Saya sarankan untuk coba duduk paling depan, jauhh lebih seruuu..
Yang paling mengejutkan kita bukan hanya dibawa jalan lurus tapi juga ada sesi kereta kita ditarik mundur dengan cepat setelah itu dibelokkan lagi...woaaa pokoknya seru deh..Memang benar nih review dari para blogger.
Oh ya kalau mau coba naik atraksi ini, kita harus titipkan dulu segala harta benda kita di loker yang sudah tersedia. Untuk setengah jam, loker masih gratis tapi setelah itu ada harga2nya.
Lokernya juga unik pake kode2 tertentu jadi bukanya bukan pakai kunci tapi pake kode yang kita buat sendiri...HEBATTT..

Selesai menikmati atraksi ini, kita nyebrang ke atraksi selanjutnya yaitu Treasure Hunters. Sebenarnya ini cuma mainan anak2, jadi kita nanti naik mobil (1 mobil isi 4 orang) cuma dibawa muter2 sebentar terus turun lagi deh. Nyesel banget naik ini, mana ngantrinya setengah jam lebih lagi..
Atraksi selanjutnya kita coba Rapids Adventure, kalau di Dufan namanya Arung Jeram.hehehe..
Tapi bedanya sama Arung Jeram, Rapids Adventure arsitekturnya lebih bertema. Jadi sepanjang perjalanan mengarungi air kita akan disuguhi dengan macam2 patung dinosaurus lengkap dengan suara2nya.
Nahh uniknya lagi, pada salah satu sisi kita akan dihadapkan pada jalan buntu. Kami pikir permainan sudah berakhir, taunya tiba2 perahu kami diangkat keatas, dan diatas kami sudah ada kepala t-rex yang sudah siap memangsa kami..aww..aww...anak2 pada menjerit, yang dewasa cuma ketawa2 aja. Setelah itu pintu disamping tiba2 terbuka dan disitulah permainan kita berakhir.

Sedikit tips kalau mau naik atraksi ini :
Seperti yang kita tahu kalau naik atraksi ini pasti ada peserta yang akan basah kuyup atau sekedar basah2 biasa.
Nahh si petugas akan menyarankan kita untuk menitipkan tas2 kita di loker lagi, tapi kali ini lokernya ga free. Saya bingung kenapa loker yang di Revenge of the Mummy tadi gratis untuk setengah jam, tapi yang disini harus bayar.
Untuk itu kita harus bayar S$ 4 untuk satu jam atau setengah jam saya sudah lupa. Kalau kita ambil barang setelah jam yang sudah ditentukan maka pintu loker baru bisa dibuka setelah kita membayar kekurangannya..capee deh..
Nah waktu itu yang antri wahana ini penuh banget jadi kami rasa kami akan kena charge tambahan karena kita baru akan selesai setelah satu jam kalau antriannya sepanjang itu.
Disaat ngantri, saya melihat banyak orang yang memakai jas hujan darurat. Kayanya mereka beli disalah satu merchandise store disana deh.
Terus saya suruh si Koes untuk lihat berapa harganya, kalau murah dibeli aja.
Ternyata harganya cuma S$ 1.5, duhh nyesel saya sudah nyewa loker ga jelas itu, mending beli jas hujan, 2 jas hujan saja masih lebih murah dari sewa loker...
Jadi kalau saudara2 sekalian mau naik atraksi ini dan takut basah, mending keluarin duit dikit buat beli jas hujan darurat itu daripada disuruh sewa loker.
Tapi jangan kira jas hujan ini tidak berguna, setiap orang yang naik atraksi ini pasti basah, malah bisa basah kuyup seluruh badan. Jadi memang untung2an kalau mujur bisa dapat posisi aman tapi kalau dapat posisi tidak aman, siap2 saja ganti baju.hehehe..

Kembali kecerita lagi, sehabis naik atraksi itu hujanpun turun, untungnya kami masih pakai jas hujan darurat kami.
Habis mencoba beberapa atraksi, perut kamipun sudah teriak2 minta diisi, akhirnya pilihan tempat makanpun jatuh di resto fast food.
Disana kami beli paket hotdog yang kami bayar dengan voucher yang kami dapat sewaktu membeli tiket. Harganya itu S$ 10 lebih, jadi kita hanya membayar kekurangannya sekitar beberapa cent.
Setelah makan kami bermaksud untuk nonton Water World, pertunjukkan semacam Police Academy kayanya. Sayang waktu itu kami melewatkan jam pertunjukkan terakhir pada hari itu. Lumayan kecewa sih melewatkan pertunjukkannya, tapi Koes segera cepat2 mengajak saya untuk nonton Shrek 4D takut nanti ketinggalan lagi.
Pertunjukkan 4D disana memang lebih seru dari yang di Ancol, sampai bagian belakang leher kita pun ikut geli2 ditiup2 sama kursinya.hahaha...
Setelah itu kita nonton Donkey Live, menurut saya ini kurang seru karena pertunjukkannya lebih cocok untuk anak2.
Setelah nonton Donkey Live, kita coba permainan lain yang lebih seru dikit yaitu Enchanted Airways. Permainan ini lebih mirip roller coaster, ya lumayan lah.
Dari sana kita kembali lagi ke area The Lost World, disana kita coba permainan yang tadi kita lewatkan karena ramai yaitu Canopy Flyer. Mumpung sudah sore jadi permainan2 sudah pada sepi. Canopy Flyer ini hanya mainan biasa, kita hanya duduk dibangku bisa duduk menghadap depan atau belakang terserah kita memilihnya, kemudian kita akan dibawa terbang memutari rel yang ada.
Setelah itu, kami tertarik untuk mencoba kembali atraksi si Mummy untuk yang kedua kalinya sebelum mereka tutup.
Karena sepi, akhirnya kami coba lagi dan lagi sampai 5 kali berturut-turut kayanya.hehehe..
Sebelum keluar dari Universal Studio, kami sempat ambil2 gambar sebentar lalu menuju merchandise store di bagian depan.
Tadinya kami mau gunakan voucher yang S$ 5 itu tapi karena kami sudah terlambat untuk nonton Song of the Sea akhirnya kami berikan voucher kami ke orang lain.
Keluar dari Universal Studio langsung buru2 ke Waterfront station untuk menunggu Sentosa Express.
Nanti kita akan turun di Beach station karena disanalah tempat pertunjukkan Song of the Sea.
Waktu itu kita benar2 terlambat, sampai sana pertunjukkan tinggal sekitar 15 menit lagi..hiks..
Saya tidak menyangka kalau Song of the Sea yang sekarang sangat berbeda dengan yang saya tonton sekitar 7 tahun yang lalu.
Lebih heboh dan lebih rame deh yang sekarang, tapi secara pribadi saya lebih suka yang dulu.

Bubaran Song of the Sea saya dan Koes tidak langsung naik Sentosa Express lagi tapi menuju ke taman2 yang banyak lampunya. Disana saya main2 air dan foto2.hehehe..
Ternyata dari taman itu bisa langsung tembus ke Imbiah Lookout, jadi kita naik Sentosa Expressnya dari Imbiah station terus ke Waterfront station lagi.
Disana kita memang tidak bisa masuk ke Universal Studio lagi, tapi kita mau foto2 di bola lagi dan jalan2 mengitari Resort World yang baru itu.
Kita sempat mampir di toko coklat Hershey's dulu terus beli coklatnya yang paling murah cuma S$ 2. Ternyata coklatnya enak, malah saya bilang lebih enak daripada Beryl's.
Setelah itu kami jalan2 di mal nya Resort World, sebenarnya saya agak salah kostum untuk memasuki mal yang isinya barang2 branded, lah emangnya saya tahu bakalan ada acara masuk mal, saya taunya kan kita cuma mau main2 di Universal Studio.hehehe..
Setelah melewati mal tadi yang isinya barang2 gawat, kita iseng2 ngikutin petunjuk yang mengarah ke Casino. Disana memang ada Casino baru, sayang saya tidak bisa masuk karena salah kostum, udah pakai celana pendek, sandal jepit pula...ck..ck..
Siapapun boleh masuk Casino asal memenuhi peraturan2 yang ada disana, mulai dari pakaian, usia,dll.

Keluar dari sana kami kelaparan dan bingung mau makan dimana. Tau2 Koes bilang kita makan malam di Albert Centre lagi aja...
Waduhh jauh amattt sih mau makan aja..
Mending kalau masih pada buka, nanti jauh2 kesana sudah pada tutup nyape2in badan aja kata saya.
Tapi dia yakin banget kalau masih ada yang buka disana, jadi kita langsung deh meluncur kesana. Dari Waterfront station kita naik Sentosa Express ke Sentosa station di lantai 3 Vivo City lalu dari sana kita naik MRT ke Bugis. Tentu saja kita harus tukar kereta sekali di Outram Park lalu naik kereta yang jalur hijau turun di Bugis.
Dari Bugis station ke Albert Centre lumayan juga jalannya, tau2 sampai sana sudah pada tutup..
Hanya ada satu warung yang buka, penjualnya bapa2 India gitu. Orangnya baik, tahu si Koes kelaparan dia masih mau melayani walaupun dia sudah beres2.
Pertama Koes pesan nasi goreng S$ 3, lalu karena masih merasa lapar dia beli lagi nasi kari S$ 4, tahu2 pas lagi makan si bapak India samperin kita dan kasih kaya ayam opor gitu, kata dia ini bonus atau gratis. Katanya kita disuruh coba masakan India yang itu.hehehe..

Karena bapaknya baik, lalu kita tanya dia dimana letak Queen St tempat mangkalnya bus2 yang akan berangkat ke Johor Baru.
Besok rencananya kita akan berangkat ke KL melalui Johor Baru supaya lebih murah.
Terus si bapa India bilang ke kita, "you mau pergi ke KL?", terus kita jawab iyaaa..
Langsung deh dia bilang lebih baik kita jangan naik bis ke Johor Baru tapi pakai bus yang langsung ke KL saja. Katanya muka2 kita ini rawan disamperin oleh calo2 rese yang ada di terminal Larkin (kira2 begitulah analisa yang saya tangkap dari omongan si bapa, habisnya dia bicara pakai bahasa campur aduk) Kalau muka2 India kaya dia, orang sana tidak ada yang berani dekatin.
Nah oleh karena itu kita disarankan sama si bapa agar kita ambil bus yang langsung aja ke KL, naiknya dari Golden Mile.
Di Golden Mile banyak sekali agen2 yang jual tiket ke KL dari bus termurah sampai yang termahal ada semua. Untuk tujuan lainpun tersedia disana, Penang, Malaka, dll..
Si Koes yang khawatir bilang ke saya supaya rencana naik bus ke Johornya dibatalkan saja, mending ikutin kata2 si bapa saja naik bus langsung dari Golden Mile, mahal dikit tidak apa2 asal aman.
Setelah berdiskusi panjang lebar, kami tidak menyadari kalau hari benar2 sudah malam dan MRT kayanya sudah tidak beroperasi lagi.
Lalu kita tanya kepada bapa India tadi kalau mau ke Little India dari sana dekat atau tidak. Lalu dia jawab dekat sekali hanya sekitar 20 menit jalan kaki.
Ya sudah si Koes langsung ajak saya jalan kaki ria lagi di malam hari untuk pulang ke Little India dari BUGISSS lohh...

Ternyata memang benar jaraknya hanya kira2 20 menitan jalan santai dari Bugis ke Little India tempat kita menginap.
Tapi tetap saja gempor seharian jalan kaki terus dari hari pertama tiba di Singapur.hikss..
Rencananya besok pagi sebelum berangkat ke KL kami mau cari Boon Tong Kee dulu, setelah itu baru deh check out dari hotel dan berangkat ke Golden Mile pakai taksi.

Mie disalah satu kedai Albert Centre


Loket Sentosa yang ada di Vivo City lantai 3


Menunggu Sentosa Express


Sentosa Express (google)


Escalator to Imbiah Lookout




Tiger Sky Tower








Skyride




View dari atas Skyride






Another Merlion


Imbiah station




Universal Studio




Universal Studio entrance


Our tickets








Antrian Monster Live Rock


Di dalam theaternya


Battlestar Galactica


Revenge of the Mummy






Treasure Hunters


Rapids Adventure


Jas hujan darurat untuk naik Rapids Adventure




Tempat pertunjukkan Shrek 4D


Bagian dalamnya




Donkey Live


MC nya Donkey Live


Donkey Show'


Canopy Flyer














Song of the Sea






Main air di taman


Beli coklat di Hershey's








Iklan Pepsi yang baru dengan bintang yang baru :)


Nasi kari


- Bersambung -